Sudah ada yang tulis duluan

Sering tidak sih kita bilang “Wah saya baru mau menulis tentang X.. sudah ada yang menulis duluan”.

Sonal Chokshi, seorang Editor, memberi tamparan.. kalau kamu mengalami hal ini.. kamu harusnya sadar, kalau yang kamu tulis berarti hal biasa. Hal yang orang lain bisa tulis.

Yang harusnya kamu tulis, adalah hal yang unik untuk kamu, tidak mungkin ditulis oleh orang lain.

Bukan hanya terjadi saat menulis, tapi juga saat menggambar, membuat bisnis, dan hal kreatif lainnya.

Komentar di sini



Waktu kosong

Dalam setiap waktu kosong, selalu muncul pilihan:
Apakah kamu ingin mengisi kekosongan ini dengan hiburan atau mengisinya dengan berkarya.

Waktunya sama-sama akan lewat.
Tapi salah satunya akan bertahan.

Komentar di sini



Mise en Place: Persiapan

Dalam dunia kuliner Prancis, ada istilah Mise en Place. Yaitu ketika semua bahan dan alat dipersiapkan sebelum mulai memasak, biasa dipakai di dapur profesional seperti restoran.

Mise en Place img by Rudy Issa

Chef yang memasak dengan cara ini, akan menjadi lebih menyenangkan. Bayangkan saat seorang chef harus cari garam di mana, atau harus melihat spatula terakhir sudah dicuci atau belum.

Kamu mungkin bukan seorang Chef. Tapi kamu bisa memperlakukan diri kamu seperti seorang profesional.

Mise en place.

Persiapkan semuanya sebelum kamu mulai bekerja.

Mulai dari dirimu. Persiapkan mental kalau kamu sedang bekerja. Tidak boleh ada chatting atau sosial media yang mengganggu.

Punya tempat yang sakral di mana kamu bekerja. Jika HARUS bekerja di tempat umum, maka pasang sign(tanda) kalau kamu sedang berada di ‘deep work’, tidak boleh diganggu. Sedang bekerja dengan fokus.

Secara fisik siapkan juga semuanya, jika menggunakan laptop, cas sebelumnya. Jika butuh ruang berpikir, letakkan buku kosong dan pulpennya. Siapkan semuanya sebelumnya.

Bukan hanya menambah barang yang kamu butuhkan, tapi perlu juga kurangi. Di meja kamu, hanya boleh ada benda yang relevan untuk kamu bekerja saat itu.

Sisanya letakkan pada tempatnya atau buang sampahmu!

Jangan ada barang yang mengganggu mata atau pergerakanmu.

Persiapkan semuanya sebelumnya. Kamu seorang profesional.

Komentar di sini



Betapa tidak berharganya waktu di Indonesia

Saat kuliah di Jerman, jika ingin ngobrol sesuatu dengan professor, saya harus membooking waktunya. Harus tepat hingga menit kesekian. Bukan jam 5, tapi jam 5:15 misalnya. Saat dosennya tidak hadir, kita juga akan mendapat email sebelum berangkat ke kampus.

Saya stres saat mendengar, beberapa teman dan keluarga yang kuliah di Indonesia, sering saat ke kampus tidak ada kabar dari dosennya. Kalau mereka sakit atau berhalangan hadir, baru tahu saat sudah jauh-jauh datang ke sana.

Jangan lagi bicarakan saat harus bertemu untuk konsultasi skripsi, mahasiswa sebagai orang yang butuh sering sekali mendapat perlakukan yang tidak adil. Tidak ada jadwal yang pasti, kadang tiba-tiba harus disuruh ke lokasi A, kadang tidak jadi, kadang harus menunggu sampai kulit kering.

Saat sudah tinggal kembali di sini, saya merasakan hal yang sama. Untuk meeting bertemu seeorang, saya sering menunggu berjam-jam. Bahkan untuk orang yang ingin butuh bantuan, saya yang harus menunggu.

Belum lagi ketika sudah sepakat untuk bertemu. Kadang saat saya sudah di lokasi, orangnya baru bilang “saya tidak bisa ternyata, ada janji lain”. Atau “Okey saya siap-siap sekarang”. Apakah waktu janji bertemu = janji waktu siap-siap? Saya tinggal di Makassar menggunakan waktu WITA. Saya sering mengeluarkan lelucon yang sudah sangat membosankan saat ada orang terlambat “mungkin dia kira jam WIB, jadi telat satu jam”.

Tidak masuk akal, stres dan frustasi.

Untuk mengedukasi orang lain, saya tidak sungkan meninggalkan tempat, baik saat berjanji dengan satu orang atau untuk kerjaan yang melibatkan banyak orang sekaligus. Saya akan pergi , saat mereka hadir terlambat, saya mengirim pesan “maaf saya sudah pergi.. kita janjinya jam sekian”.

Tidak usah janjian

Orang suka sekali bertemu langsung, tapi tidak suka bertemu langsung sesuai jadwal. Sering kali hal-hal yang sepele, hal yang bisa ditanyakan lewat telepon harus janjian bertemu dulu, padahal cuma satu pertanyaan. DEEEM.

Saya berusaha untuk tidak bertemu orang yang ingin “bertemu” untuk menanyakan sesuatu. Saat ada miss call masuk (Ya, saya tidak suka juga angkat telepon), saya akan mengirim pesan singkat. “Ada yang bisa dibantu?”. Hampir selalu masalah yang ingin disampaikan bisa selesai dengan pesan balasan, tanpa harus bertemu.

Saya tidak suka telepon

Telepon atau bertemu langsung = LIVE. Tidak ada waktu untuk berpikir dengan matang. Saat orang ingin meminta tolong, kita jadi sering tidak enak untuk menolak, akhirnya di"IYA"kan. Atau saat ingin bertanya, kita jadi asal jawab, yang belum tentu tepat dengan kondisinya. Dengan berkomunikasi “async” (tidak langsung). Kita memberi jeda diri sendiri dan dirinya untuk berpikir.

Waktu itu berharga meeeen

Untuk kamu yang sering terlambat, kamu sudah mencuri waktu orang lain. Sering kali saat acara, ada “pahlawan kesiangan” yang harus selalu ditunggu. Saat orang lain sudah mau pulang, dia baru datang, orang lain harus “pesan makanan/minuman” lagi untuk menemani beliau sang raja terakhir. Topik yang sudah dibahas harus dibahas lagi, untuk menghibur sang ratu delay ini. Belajarlah menghargai waktu orang lain.

Berikutnya saat berjanji

JIka tidak perlu bertemu langsung, tidak usah! Jangan mengira tidak sopan. Tidak sopan itu kalau kamu tidak menghargai waktu orang lain. Belum lagi di kota besar, yang harus bertemu macet, saya ngga kebayang stres di jalan saat tahu orang lain tidak seserius kita untuk komitmen tepat waktu.

Selesaikan masalah dengan teknologi yang ada. Pesan singkat atau telepon jika perlu. To the point, tanpa mengurangi rasa sopan. Ini lebih menghargai waktu orang lain. Jika memang orangnya tertarik dan perlu.. silahkan bertemu.

Untuk mengatur jadwal, pikirkan semua FAKTOR X yang akan menghalangi kamu. Jika kamu bekerja, apakah biasanya pekerjaan selesai tepat waktu? jangan bilang iya saya lowong jam 5, tapi biasanya di kantor sampai jam 6. Perkirakan semuanya apakah kamu akan terlambat, butuh berapa lama di jalan, apakah akan macet, dan faktor X lainnya. Setujui waktu yang kamu mmapu hadir. Waktu orang lain berharga.

Komentar di sini



promosi setelah berkarya

Setelah membuat karya sekian lama, hal yang paling mudah dilakukan adalah bersembunyi. Berharap orang lain akan menemukan karya kita dan mempromosikannya.

Sayangnya bukan itu yang terjadi. Pekerjaan kamu belum selesai. Setelah selesai menulis, sekarang tugas kamu adalah memberitahukannya ke orang lain.

Bangga dengan apa yang kamu kerjakan.
Hargai waktu yang sudah kamu gunakan.

Jangan malu, kalau bukan kamu yang meluaskannya, siapa lagi.

Saya baru saja menulis buku halo koding. Menulis artikel ini, adalah salah satu cara mempromosikannya.

Komentar di sini




Baca tulisan lainnya di sini