Kapan waktu untuk menyerah

Sering mendengar kata motivasi “jangan menyerah?”, saya coba tawarkan hal baru untuk kamu, belajarlah menyerah. Saya sudah sering membuat proyek. Sebagian besar berupa website dan sebagain besar juga tidak bertahan. Kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk kita menyerah di suatu proyek?

Apapun yang kamu lakukan, kamu akan betemu dengan titik susah atau tidak nyaman, banyak yang menyerah saat bertemu dengan titik ini, sayangnya titik ini seringkali pertanda yang bagus, karena tidak semua orang berhasil melewati titik susah. Orang berebutan mengerjakan hal yang mudah, bukan yang susah.

Di sisi lain kamu sering sibuk, ketagihan mengerjakan sesuatu padahal tidak membawa kemana-mana. Analogi yang paling sederahana adalah merokok. Semakin kamu menghabiskan waktu dengan rokok, akan semakin rusak badanmu (saya tidak mau berdebat, yang merasa rokok tidak berpengaruh, you & your family will deal with the risk).

2 tahun lalu saya membuat program (Haiiqro) untuk menampilkan kutipan islami singkat secara acak, mulai dari ide sampai jadi sebuah website dalam 1 hari, membuat email, logo sampai sosial medianya. Hanya butuh waktu 1-2 bulan sampai saya berhenti mengerjakannya.

Saya tidak peduli apakah orang butuh atau tidak dengan ini, saya hanya mau membuat sesuatu dan berharap orang memakainya. Dan bisa ditebak, tidak banyak yang memakainya,

Di waktu lain, saya dan teman-teman membuat Wissenspace, tempat untuk sharing link belajar. Dalam sebulan mengerjakannya dengan penuh semangat. Beberapa bulan kemudian saya putuskan untuk berhenti mengerjakan proyeknya.

Padahal untuk wissenspace responnya cukup baik, orang-orang mulai memasang link dan membagi sumber belajarnya disini. Tapi kenapa harus saya tutup?

Sejak awal saat membuat dua proyek ini tujuan saya adalah belajar bekerja dalam tim. Berkolaborasi ide dan sama-sama mengembangkannya. Sayangnya karena kesibukan masing-masing, saya berakhir pusing untuk mengatur jadwal dan deadline tugas masing-masing yang tidak dikerjakan.

Kalau memikirkan waktu dan tenaga yang sudah saya investasikan, saya akan terus mengerjakannya sampai sekarang. Tapi ada yang lebih penting dari itu, saat bertemu dengan bagian yang susah dari sebuah proyek, tanyakan ke diri sendiri, apakah waktu yang akan kamu investasikan berikutnya akan sejalan dengan tujuan kamu? (jangan pikir yang sudah kamu investasikan, tapi berapa lama waktu yang akan kamu habiskan nantinya).

Belajar memutuskan untuk meninggalkan sebuah proyek yang tidak lagi sesuai dengan tujuan kamu, jangan merasa sayang dengan yang sudah dilakukan, tapi pikirkan apakah waktu kamu bisa dialihkan ke hal yang lebih baik dibanding pusing mengurus hal yang tidak berjalan.

Atau lebih penting lagi, belajar membunuh ide sejak awal. Sebelum jauh menginvestasikan waktu mengerjakan sesuatu, gunakan tenaga dan pikiran untuk mematikan ide ini. Kenapa dia penting, kenapa orang tidak memilih alternatif lainnya, apa bagusnya dst.. kalau sampai akhir di berbagai pertanyaan kritis kamu tetap bertahan, kemungkinan besar ini adalah ide yang layak diperjuangkan.

Kamu memang selalu bisa belajar dari mengerjakan sesuatu (kesalahan atau yang baik), tapi jangan terus belajar kesalahan yang sama.

Tidak perlu jatuh cinta sama ide yang kamu punya, rela untuk mengorbakan, fokus pada tujuan dan manfaat yang bisa kamu bawa.



<< Kembali ke Halaman Awal