🌚 Dark

Mengenal apa itu impostor syndrome

Meskipun saya sudah mengajar programming selama kurang lebih 4 tahun (2019), perasaan “saya tidak pantas melakukan ini ” tetap sering hadir. Perasaan ini bisa membuat saya stress yang berlanjut dengan berhenti belajar, membuat materi apalagi mengajar. Hal yang sama saat saya diundang di suatu acara untuk berbagi, entah judulnya pembicara, juri atau yang lain.. perasaan “saya menipu orang lain” akan muncul, seakan-akan hanya menunggu ada yang membuka topeng yang saya pakai dan semua orang akhirnya tahu.. saya tidak bisa apa-apa.

Saya mulai mencari permasalahan ini, ternyata di tahun 1978, Pauline Rose dan Suzanne Ament sudah meneliti dan menulis tentang ini, yang disebut sebagai “impostor syndrome”. Di paper mereka, disebutkan kalau terlepas dari bukti nyata pencapain karir atau penghargaan yang diakui oleh orang lain, banyak wanita yang tetap merasakan “impostor syndrome”, perasaan sudah menipu orang lain (tidak pantas mendapatkan apapun) dan hanya beruntung melewati semua tantangan sebelumnya. Penelitian ini memang berfokus pada wanita, karena secara frekuensi wanita lebih sering mengalaminya, tapi tentu saja laki-laki pun merasakan hal ini.

Dalam bahasa inggris, kata “imposter” berarti “penipu”. Cukup kasar dan sakit saat mendengarnya. Tapi memang ada perasaan nyata seperti ini yang muncul, kalau saya tidak pantas mengajar atau berbagi atau mungkin tidak pantas di pekerjaan sekarang. Perasaan “cuma beruntung” bisa sampai sini, bukan karena berusaha dan layak mendapatkannya.

Hal-hal yang menyebabkan perasaan ini

-Anne Lamott pernah menuliskan “jangan membandingkan diri kamu dengan tampilan orang di luar”. Sayangnya hal ini yang justru kita lakukan. Kita mengenal diri sendiri sejak kecil, tahu kekurangan dan kesalahan yang sering dilakukan. Permasalahannya saat kita membandingkan dengan apa yang dilihat dari orang lain. Yang kita lihat bukan “sisi asli” dari orang lain.. kita hanya melihat kesuksesannya atau apa yang dia posting. Seperti membandingkan buah apel dan ayam goreng. BERBEDA.

-Lingkungan yang tidak mendukung. Sejak kecil apapun prestasi yang kamu dapatkan, dianggap “masih kurang” oleh orang lain. Angka 90 tidak cukup, kamu harus dapat 100. Kita hidup dengan kritik yang terus menggaung di telinga, kalau kita tidak bisa apa-apa.

Bentuk dari Impostor Syndrome

Kalau kamu tidak merasakan hal yang sama dengan saya, mungkin beberapa hal ini bisa jadi pendeteksinya:

-Merasa bodoh dan susah belajar. Merasa orang lain jauh lebih hebat.

-Mencari alasan kalau orang lain berbakat, tapi saya tidak. Sebagai contoh saat melihat Lionel Messi bermain bola, kita akan bilang dia berbakat, padahal jelas jumlah Messi latihan tentu jauh di antara kita semua

-Kita harus mengeluarkan karya yang sempurna. Pernyataan ini tentu omong kosong, ngga akan ada hari di mana kita merasa sempurna. Kita akan menghukum diri sendiri dan sedih ketika mendapat 99, hanya karena kurang 1 dari 100. Kita lupa merayakan dan menikmati hasil usaha selama ini.

-Merasa kamu tidak cukup unik. Semua hal sudah disuarakan oleh orang lain, kamu tidak diperlukan lagi.

Perasaan-perasaan ini adalah contoh dari impostor syndrome itu sendiri.

Apakah ini berbahaya?

Iyap, sangat berbahaya. Perasaan ini akan menghalangi kita dari membuat sesuatu yang penting. Sebagai contoh saya tadinya tidak mau menulis blog ini karena merasa bukan ahli psikologi. Padahal ketika kita menyuarakan sesuatu, ada banyak orang lain yang sedang depresi menjadi terbantu. Mungkin tidak membantu semua orang, tapi ada yang sangat membutuhkannya, walaupun 1 atau 2 orang.

Kita menjadi nyaman untuk bersembunyi, tidak usah melakukan apa-apa, tidak usah mencoba sesuatu yang baru, cukup ikuti perintah orang lain dan pasrah dengan semuanya. Kita tidak berani berbicara, tidak berani memimpin. Akhirnya kita pasrah dengan keadaan, tidak punya rasa percaya diri untuk memaksimalkan potensi yang kita punya atau lebih parah sibuk menyalahkan orang yang berbuat sesuatu.

Gangguan-gangguan lain akan menumpang setiap hari seperti rasa khawatir yang berlebihan, rasa takut, rasa malu, tidak percaya diri sampai depresi untuk menjalani hidup.

Bagaimana mengatasi impostor syndrome

Kabar baiknya.. hal ini bukan cuma saya dan kamu saja yang merasakan. Hal ini justru cenderung dirasakan oleh orang-orang yang kita anggap ahli. Ada Anne Lamott, Maya Angelou, Steve Pressfield, Elizabeth Gilbert dan banyak penulis lain, terlepas dari banyak buku bestseller yang mereka tulis, perasaan “tidak pantas” dan sudah menipu orang lain tetaplah datang. Tentunya di bidang lain pun terjadi hal yang sama, bukan hanya dunia seni saja.

Ada beberapa hal yang bisa kita coba untuk mengatas masalah ini (bukan menghilangkan total):

-Sadar kalau perasaan ini adalah hal yang nyata dan dirasakan oleh banyak orang. KITA TIDAK SENDIRI

-Lebih banyak membicarakannya dengan teman atau keluarga. Tidak menyembunyikan sampai ke titik stress. Berusaha tampil sempurna di mata orang lain akan menjadi beban. Biasakan meminta tolong kepada dan jangan malu belajar dari orang lain.

-Pasang mindset, kalau kita adalah pelajar seumur hidup. Kita masih dalam tahap berkembang, belum selesai. Tentu ada kekurangan dan itu bukan masalah.

-Hargai usaha kamu sendiri. Jangan hanya melihat hasil akhir. Sebagian besar hasil akhir adalah hal yang tidak bisa kita kontrol, mulai hargai apa yang bisa kamu kendalikan yaitu proses usaha kamu.

-Sadar kita tidak bisa sempurna di semua hal. Saya bisa programming bukan berarti saya ahli dalam berbicara. Dan jangan menjadikan alasan : karena saya jelek di A, berarti saya tidak boleh melakukan B

-Ingat kembali kalau kita diciptakan Tuhan tidak dengan sia-sia. Fakta kita hidup sampai sekarang, berarti masih ada kesempatan untuk melakukan tugas yang harusnya kita kerjakan.

Di posisi apapun kita sekarang, baru mulai berjuang atau sudah di posisi karir yang nyaman, penyakit impostor syndrome ini akan hadir. Jangan menganggap remeh diri sendiri, masalah diciptakan bersamaan dengan berbagai kemudahan yang datang.

Catatan sampingan:

Saya pernah menulis tidak seseram yang saya bayangkan . Ternyata perasaan takut ini bukan hanya saat ingin memulai sesuatu, tapi dia terus muncul sepanjang kita berkarya

Article/paper The impostor phenomenon
ted-ed what is imposter syndrome
The philosophy of life- the impostor syndrome
tedx solution for imposter syndrome



<< Kembali ke Halaman Awal