🌚 Dark

Jangan pusing dengan yang tidak bisa dikendalikan

Kita punya energi yang terbatas, bahan bakar tenaga ini bisa difokuskan untuk 1. berbuat sesuatu atau 2. khawatir terhadap hal tersebut. Kedua-duanya butuh energi, tapi untuk nomor dua, sering terpakai tanpa sadar.

Epictetus mengatakan “maksimalkan apa yang bisa kamu kendalikan dan terima apapun yang terjadi. Beberapa hal tergantung dengan kita dan beberapa hal tidak tergantung dengan kita”.

“Make the best use of what is in your power, and take the rest as it happens. Some things are up to us and some things are not up to us.”

Jika tidak sadar bahwa ada hal-hal yang di luar kendali, kita memperlakukan semuanya dengan sama. Padahal energinya terbatas, perlu membatasi hanya mengeluarkan energi ini untuk yang bisa dikendalikan, yaitu USAHA. Hasil bukan kita yang menentukan, jangan habiskan waktu, tenaga dan pikiran untuk khawatir secara berlebihan dengan hasil.

Hal-hal yang bisa dikendalikan:
-mengatur waktu kamu (memprioritaskan sesuatu)
-memilih teman yang baik (mencari lingkungan positif)
-menulis, membuat design, membuat program (dan kerjaan lainnya)
-konsumsi makanan/minuman tidak berlebihan
-membantu orang lain
-dst.

Hal-hal yang TIDAK BISA dikendalikan:
-Dipecat atau naik pangkat di perusahaan
-Lamaran diterima atau ditolak (pasangan atau pekerjaan)
-Gagal dalam usaha
-Perkataan dan sikap orang lain
-dll.

Saya yakin ada yang berargumen, “tapi kita bisa mengatur, kalau berusaha kemungkinan karir akan naik, tapi kalau malas-malasan, akan dipecat”. Betul, begitu juga dengan contoh-contoh berikutnya. Tapi perlu digaris bawahi, yang bisa kita atur adalah “usaha kita” dalam bekerja bukan hasil akhirnya.

Kita bisa berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan sesuatu, tapi bukan tidak mungkin, hal yang dikejar bertahun-tahun, hilang begitu saja. Di saat seperti ini, harus sadar, kalau ada hal-hal yang di luar kendali.

Sebagai contoh, kamu rajin membersihkan wajah, tapi ternyata secara genetik dan lingkungan, wajah kamu mudah berjerawat, kamu tidak boleh dan tidak perlu stres, karena stres akan memicu kembali penyakit yang lain. Kamu sudah berusaha membersihkan, kamu boleh belajar dan berusaha lagi, mengatur apa yang bisa dikonsumsi, membersihkan lingkungan dll. Tapi kalau yang terjadi kamu hanya menangis dan stres dengan jerawat yang ada sekarang, ini tidak membantu. Karena “hasil” ini di luar kendali kamu.

Perkataan dan sikap orang lain juga seperti ini, kita bisa berbuat baik ke orang lain, tapi tidak bisa mengendalikan orang lain melakukan hal yang sama. Abdullah Gymnastiar berpesan, hinaan dan pujian semuanya cuma gelombang suara yang sampai ke telinga, tidak ada bedanya. Kenapa kita senang dengan pujian, tapi begitu mudah sedih dengan hinaan? Mahatma Gandhi juga menyampaikan kalau “tidak ada yang bisa menyakiti saya tanpa izin saya”. Artinya ada pilihan, apakah sikap dan perkataan orang lain kita izinkan untuk menyakiti perasaan ini, atau kita hanya menganggapnya seperti suara yang lain, suara yang tidak bisa kita kendalikan.

Rasa khawatir kita terhadap hal-hal yang tidak bisa dikendalikan, sering kali justru menjadi penghalang aktivitas, akhirnya tugas-tugas berikutnya ikut menjadi kacau. Mantan pemain baseball Amerika, Mickey Rivers, punya mantra yang lebih jauh seputar rasa khawatir ini

“Tidak masuk akal untuk khawatir dengan hal yang bisa kamu kendalikan, karena kalau hal itu bisa dikontrol, tidak perlu lagi khawatir. Dan.. tidak masuk akal juga khawatir dengan hal yang tidak bisa kamu kendalikan, karena kalau tidak bisa kamu kontrol, kamu tidak perlu khawatir”

Sudah selesai dengan urusan sebelumnya? silahkan lanjutkan dengan urusan berikutnya, jangan berhenti dan memikirkan hasilnya, itu di luar kendali kamu. Saya sudah selesai dengan tulisan ini, yang bisa saya kendalikan? menulis dan memperbaiki tulisannya. Tugas saya berikutnya adalah menulis lagi, bukan memikirkan apakah orang akan membaca ini atau tidak.

Fri Dec 6, 2019

Sampai kapan kamu mau berlomba

Kita punya dua pilihan, memenangkan pertandingan di kehidupan ini dengan cara apapun ATAU tidak mengikuti pertandingan dan hanya menikmati permainannya.

Ketika perusahaan lain berlomba mendiskon produknya, saya lebih memilih menaikkan harga, agar saya bisa bertahan.

Ketika orang lain berlomba tampil lebih di sosial media, saya lebih memilih menulis di website yang mungkin tidak ada orang yang tertarik membaca.

Ketika orang lain berlomba menampilkan rasa cintanya dengan keluarga di sosial media, saya lebih memilih menghabiskan waktu dengan mereka di dunia nyata.

Tidak sedikit dari kita yang tanpa sadar mengikuti pertandingan ini setiap hari. Ingin menang sesaat, dipuji, dapat likes, komentar, jumlah viewer dan sebagainya, akhirnya kita berusaha menang dengan cara apapun. Kita mengira uang dan populer adalah tujuan, selalu menolak dan pura-pura tidak tahu, kalau banyak orang yang sudah “punya semuanya” justru berakhir stress.

Miris melihat orang-orang rela melakukan apa saja, hanya demi mencari perhatian.

Beri perhatian ke diri kamu sendiri, jangan mencari dari orang lain

Saya lebih tertarik bermain jangka panjang, mengerjakan hal yang menyenangkan dan bermanfaat untuk orang lain. Membuat perasaan kamu nyaman setiap hari ketika tahu ada orang yang terbantu dengan apa yang kamu buat. Semua resep produktivitas akan kalah ketika kamu mengerjakan apa yang kamu senangi dan bermanfaat.

Ketika godaan untuk ikut berlomba membuat sesuatu lebih besar, lebih banyak dan lebih-lebih lainnya, jauh lebih menarik untuk melanjutkan apa yang kamu suka.

Berhenti sejenak, berpikir dengan tenang, ketika hiruk pikuk lomba terus menggaung di sekeliling kita.

Tidak perlu sibuk menghakimi orang lain, setiap dari kita punya masalah dan urusan masing-masing. Kamu tidak harus ikut berlomba di kompetisi sementara ini, berdoa dan berusahalah untuk mencari orang-orang yang ingin bermain jangka panjang, habiskan waktu dengan mereka.

Berlomba berarti akan ada yang menang dan harus ada yang kalah. Saat kamu memilih tidak berlomba, semua adalah teman dan siap berbagi manfaat sesuai dengan peran masing-masing

Sun Dec 1, 2019

Mau berubah esok hari

Kalau ada satu kesalahan yang kita tidak pernah belajar, mungkin bagaimana mudahnya kita melewati kesempatan setiap hari. Seakan-akan kita tahu kapan kita akan pergi. Seakan-akan semua tugas sudah kita selesaikan, semua kesalahan sudah kita perbaiki, semua potensi sudah kita maksimalkan.. sekan-akan…

Dia bilang saat pagi,
mau berubah malam nanti

Akhirnya malam tiba,
Tapi dia sudah tiada

Hari ini adalah hadiah, bagaimana kamu memperlakukan hadiah ini? sudahkah hadiah ini kamu hadiahkan ke orang lain? atau harimu hanya untuk memuaskan nafsu sesaat, yang nikmatnya terlupakan tanpa lama berselang.

Kamu bisa menjadi baik hari ini, tapi kamu lebih memilih besok - Marcus Aurelius

Thu Nov 28, 2019

Saya punya ide!

Pernah dengar seorang teman yang berkomentar “wah itu padahal ide saya yang sudah lama” ketika melihat sebuah produk yang sekarang berhasil ? Dia merasa spesial karena sudah pernah punya ide tersebut, dia merasa idenya dicuri, ada juga yang merasa bangga saat “idenya” berhasil dijalankan orang lain. Mungkin bukan teman, tapi kamu sendiri pernah mengalaminya. Punya ide yang berhasil dieksekusi oleh orang lain. Saya akan beritahu hal yang menyedihkan “ide tidak ada artinya”.

Saya bukan menuliskan “jangan menyumbang ide lagi! percuma!”, tentu ini konteks yang berbeda. Saat kamu di sebuah tim, organisasi atau perusahaan, tentu menyumbang pikiran (ide) menjadi bagian yang sangat penting. Yang dimaksud di sini adalah ketika kamu ingin membuat sesuatu tapi hanya berhenti di ide saja.

Punya ide tidaklah spesial

Ide bukanlah hal yang luar biasa sampai kamu bisa mengeksekusinya. Sama seperti rumus “matematika pengetahuan”. Ide juga menggunakan perkalian. Kalau kamu punya ide 100 tapi prakteknya 0, hasilnya 100 X 0 yaitu NOL. Kamu tidak berhak mengklaim ketika orang lain mengeksekusi ide yang kamu punya, kamu tidak punya bukti apa-apa sebagai pemilik konten atau produk tersebut, kecuali kamu pernah membuatnya.

Dibanding merasa bangga ketika ide kamu bertahun-tahun lalu ada yang menjalankan, lebih bagus kamu merenung, kenapa bukan kamu yang mengerjakan? Punya ide, tidak bikin kamu menjadi founder ide tersebut, yang akan menikmati hasilnya tetap orang yang mengeksekusinya. Ide yang sama bisa dimiliki banyak orang di banyak tempat, punya ide tidaklah spesial.

Jatuh cinta dengan ide?

Saat kamu jatuh cinta dengan seseorang hanya karena melihat wajahnya, lalu siap melakukan apa saja tanpa mencari tahu sifat aslinya, siap-siap menyesal :) . Jangan jatuh cinta dengan ide di pandangan pertama. Berpikir serasional mungkin, jangan mudah jantuh cinta dengan ide, dia bisa menipu.

Saya sering mendapat ide tertentu, karena saya punya skill programming, saya segera membeli domain dan membuat aplikasinya, tidak butuh waktu lama, mungkin beberapa jam atau hari kemudian saya menyesal dan baru tersadar kalau sudah menghabiskan tenaga untuk itu. Belajar lebih kritis saat kamu kedatangan ide, pertimbangkan sisi positif dan negatifnya.

Saat meminta masukan orang lain yang jujur dan tidak sependapat, kita cenderung marah dan tetap bersikukuh melaksanakan idenya… Betul, sama seperti jatuh cinta ke manusia, kita sering menjadi tidak rasional.

Ide sama seperti nafas

Kita menghirup udara, setelah itu mengeluarkannya. Kita punya suatu ide, setelah itu melupakannya.

Tangkap ide yang kamu punya di sebuah catatan, bisa buku fisik atau laptop. Saat kedatangan ide, saya akan mengambil kertas dan mencatatnya, coba menjabarkan kemungkinan kenapa ini bisa berhasil, dan kenapa tidak.

Ada juga teori lain, kalau ide itu bagus, dia akan muncul berkali-kali, tidak perlu kamu catat. Saya pribadi lebih senang dengan yang pertama.

Bagian yang sulit

Apalagi kalau bukan mengerjakan idenya. Jangan berharap semuanya indah begitu saja. Ini bukan film yang hanya berjalan 2 jam, mulai dari kamu menderita sampai bisa sukses. Ini perjalanan panjang, yang butuh kesabaran dan pengorbanan (waktu, tenaga, uang dan pikiran).

“Everybody has a plan until they get hit” - Mike Tyson

Semua orang punya rencana, sampai dia ditinju. Ekspektasi hal-hal di luar dugaan akan datang. Tidak semua semulus rencana kamu. Mengerjakan ide yang bagus biasanya akan sulit, justru ini pertanda baik, ketika banyak orang menyerah, kamu justru bisa bertahan. Ingat bagian dari ide, adalah yang melaksanakan yang akan menikmati hasilnya

Mencari eksekutor

Kalau kamu benar-benar merasa ide yang kamu punya brilian, tapi tidak bisa mengerjakannya karena keterbatasan skill. Pilihannya ada dua, kamu belajar skill tersebut, atau mencari orang yang punya skillnya.

Contoh di bisnis, kamu bisa mempekerjakan seseorang untuk itu, atau mencari partner/teman yang sama-sama siap berjuang di awal. Tentu saja hal ini tidak semudah menulisnya. Contoh lain dalam dunia organisasi misalnya, kamu tidak bisa mengerjakan semua hal, mencari ahli di “ide” yang ingin kamu kerjakan juga menjadi penting untuk kemajuan organisasinya.

Terakhir

Kalau kamu merasa saya tidak menghargai ide, jawabannya salah!

sebaliknya, saya percaya ide bisa mengubah dunia…

ketika orangnya mengambil langkah, walaupun hanya langkah kecil, setiap hari.

Sun Nov 24, 2019

Dua tahun tehataukopi

Tidak terasa (eh, terasa ko’ ), sudah dua tahun tehataukopi berjalan. TAK menjadi salah satu proyek saya yang bertahan, dimana normalnya saya mengerjakan sesuatu, beberapa hari atau bulan kemudian sudah tamat. Selalu menarik punya proyek sampingan yang bisa berjalan dan ada yang menikmatinya.

Saya mau refleksi sedikit tentang tehataukopi tahun ini.

Total podcastnya sudah ada 19 episode, target saya untuk membuat 1 bulan satu kali sayangnya tidak berhasil :) , berikut grafik pendengarnya yang saya pribadi tidak begitu peduli, selama menikmati menjalankannya.

Perubahan besar di tahun ini adalah saya memindahkan tulisan-tulisan di tehataukopi ke blog pribadi, agar lebih mudah mengurusnya. Total sampai saat ini sudah ada 220 tulisan, saya tidak menggunakan analytics jadi tidak bisa share berapa angka pembacanya.

Target untuk memberbanyak frekuensi menulis tahun ini berhasil tercapai, meskipun tidak semuanya dipublish, dengan adanya blog sangat membantu saya untuk berpikir, belajar dan menuangkannya ke tulisan.

Banyak yang bertanya bagaimana bisa menjalankan banyak hal sekaligus? jawabannya karena saya suka yang saya kerjakan. TIDAK ADA UANG yang saya dapat dari membuat tehataukopi, uang sama sekali bukan faktor dalam mengerjakannya. Dengan menulis dan membuat podcast, saya sendiri sangat terbantu dalam berpikir dan senang saat tahu orang lain ikut mendapat manfaatnya.

Terakhir, terima kasih untuk semua yang sudah setia membaca tulisan atau mendengarkan podcastnya, saya sangat berharap kontennya bisa membantu kamu apapun karir yang kamu pilih, untuk terus belajar jadi lebih baik dan mau membantu orang lain

Sat Nov 23, 2019

Mencari cinderella

Di kisah fiksi cinderella, seorang pangeran mengerahkan pasukan istananya untuk mencari siapapun perempuan yang kakinya muat dipasangkan dengan sepatu kaca, tidak peduli apakah orangnya baik atau tidak, selama muat di kakinya.

Seringkali dalam membuat produk kita seperti pangeran ini, sudah membuat semuanya di awal (sepatunya sudah jadi), kita akan mencari konsumen yang muat kakinya, tidak peduli seperti apa konsumennya.

Ada satu cara lain dalam berbisnis, bekerja atau membuat produk, kamu memilih putrinya terlebih dahulu, masalah dia mau pakai sepatu atau sendal, itu urusan belakangan, bahkan kamu bisa membuatkan sepatu yang sesuai dengan keinginan dan pas di kakinya. Mana yang lebih penting dalam situasi ini, sepatu atau putrinya?

Saat kamu memilih mau bekerja di mana, jangan lupa untuk memilih putrinya dulu, karena kamu akan menghabiskan banyak waktu dengan dia bukan sepatunya. Bukan gajinya, bukan popularitasnya, tapi apakah yang kamu kerjakan nyaman untuk kamu. Bantu orang yang mau kamu bantu.

Thu Nov 7, 2019

Mengerti permainan yang kamu mainkan

Seorang juara dunia “youth scrabble champion 2011” berumur 11 tahun bernama Anand Bharadwaj sedang bertanding dalam permainan scrabble dengan pria berumur 50an tahun, Nigel Richards. Kalau ini film-film, mungkin ceritanya akan berakhir dengan anak jenius ini juara dan mengalahkan Nigel. Sayangnya tidak.

Nigel Richards, pria misterus asal New Zealend ini mengalahkan Anand dengan unggul 100 poin. Cerita Anand sebenarnya juga menarik, tapi kali ini kita akan fokus ke Nigel.

Nigel menjuarai U.S. scrabble champion 5 kali, dan juga kompetisi scrabble berbahasa inggris di beberapa negara lain. Mungkin itu tidak terlalu mengejutkan buat kamu, tapi ada satu lagi, Nigel juga menjuarai kompetisi scrabble berbahasa Prancis! .. Dan.. Nigel tidak bisa bahasa Prancis.

Mengerti permainannya

Sedikit tentang scrabble kalau kamu tidak familiar, di permainan papan ini, kamu perlu menyusun kata berdasarkan huruf acak yang kamu dapat, masing-masing hurufnya ada poin. Semakin banyak poin, dialah yang menang.

Dia tahu, dia sedang bermain scrabble, karena itu dia mengasah skillnya dengan menghafal kata-kata termasuk kata yang sulit dari bahasa Prancis. Tidak penting, dia mengetahui artinya atau tidak, yang penting dia bisa menyusun kata di papan scrabblenya nanti.

Dia tidak menghabiskan waktunya untuk mengerti arti setiap kata, tidak juga untuk belajar melafalkan suatu kata atau struktur grammarnya, dia fokus menyerap banyak kosa kata. Hanya butuh beberapa bulan persiapan, sebelum dia berkompetisi scrabble bahasa prancis ini.

Saat kamu tahu, permainan (kerja, tugas, dll.) apa yang sedang kamu mainkan, kamu bisa mengasah skill lebih spesifik dengan waktu yang lebih jelas. Sumber informasi sangat banyak, memilih informasi apa yang mau kamu konsumsi menjadi sangat penting kalau tidak ingin hanyut dalam banjir informasi.

Pahami kamu sedang bermain apa, cari tahu aturan mainnya.

Tentukan satu hal yang kamu inginkan dan Atur jadwal untuk menjadikannya prioritas

Tue Nov 5, 2019

Mengatur jadwal

Lihat jadwal kamu, penuh dengan kegiatan?
jangan bangga dulu, kegiatan-kegiatan tadi belum tentu bermanfaat dan sejalan dengan tujuan kamu.

Lihat lagi satu per satu, mana kegiatan di kalender kamu yang tidak penting. Hapus sekarang. Jangan memprioritaskan apa yang ada di kalender, tapi jadwalkan apa yang menjadi prioritas.

The key is not to prioritize what’s on your schedule,
but to schedule your priorities. - Stephen Covey

Sekolah mungkin ada jadwalnya, begitu juga pekerjaan kamu di kantor sudah ada jamnya. Sekarang, waktunya kamu membuat jadwal sendiri, di luar kegiatan sehari-hari. Tidak cukupkah orang lain mengatur hidup kamu? jangan menunggu jadwal lagi, kamu yang bikin jadwalnya. Prioritaskan apa yang penting, jangan sekedar bikin sesuatu karena sudah ada di kalender

Sun Nov 3, 2019

Tidak punya bos (hidup freelancer)

Sebagian orang bermimpi mau bekerja sebebas mungkin, tanpa bos yang mengatur jadwal dan pekerjaannya.

Untuk yang sudah merasakannya (freelancer atau “anak startup” yang sedang membuat produk) sayangnya tidak seindah bayangan sebelumnya.

Kalau kamu tidak punya bos, berarti kamulah BOSnya. Pertanyaannya apakah kamu bos yang baik atau bos yang buruk?

Uang
Normalnya, tidak ada orang yang ingin bekerja tanpa dibayar. Tapi saat kamu memasuki dunia ini uang menjadi isu yang besar. Kamu tidak menegoisasikan gaji, kamu tidak bisa menuntut siapa-siapa, kamu yang mengatur berapa uang yang mau kamu ambil bulan ini.

Waktu
Tidak ada yang mengingatkan deadline, kalau kamu membuat usaha sendiri kamu yang menentukannya. Kerjaan lewat dari deadline? tidak ada yang marah atau menegur, resikonya akan kamu rasakan sendiri. Lebih cepat dari deadline? tidak ada yang memuji.

Saat bekerja di kantor kamu ingin waktu kerja lebih sedikit, kamu mau istirahat lebih banyak. Sekarang? kamu justru bekerja lebih banyak. Mungkin bukan waktu nya yang kita benci, tapi pekerjaannya.

Keputusan
Setiap hari kamu perlu mengambil keputusan, kamu tidak tahu mana jawaban yang benar. Yang bisa kamu lakukan hanya mencoba. Dulu kamu mau bebas, sekarang kamu sangat bebas, setiap detail keputusan kamu yang memegang. Sesuai dengan harapan kamu?

Sekarang.. Kamu adalah bos diri kamu sendiri. Bagaimana kamu memperlakukan dirimu? bagaimana menyeimbangkannya dengan target yang ingin kamu capai? Bukan pertanyaan yang mudah, tapi perlu kamu tanyakan.

Baca juga tips untuk freelancer

Thu Oct 24, 2019

Bias dalam berpikir (Cognitive bias)

“Jangan membodohi diri sendiri dan kamu adalah orang yang paling mudah untuk dibodohi” - Richard Feynman.

Mengerjakan sesuatu adalah satu hal, mengambil keputusan untuk hal mana yang mau dikerjakan juga hal yang lain. Salah dalam mengambil keputusan perlu kita kurangi, untuk mendekati hasil yang kita inginkan. Yap yang saya tulis adalah mengurangi, karena kita tidak tahu mana keputusan yang 100% tepat.

Bias kognitif (Cognitive bias) adalah kesalahan dalam cara berpikir yang bikin kita salah dalam mengambil keputusan. Saya akan menjelaskan beberapa dasar penyebab dari bias kognitif ini, sebenarnya ada banyak banget dengan istilah psikologinya masing-masing, tapi seperti biasa, tugas saya adalah membuatnya menjadi kalimat yang mudah untuk kamu cerna, saya tidak akan menuliskan setiap istilah bakunya. Jadi kalau kamu mau mencari referensi bakunya di akhir artikel akan saya pasang link, tapi tidak dibahas satu per satu di sini.

Masalah kognitif bias

Yang paling jelas adalah “salah dalam mengambil keputusan”. Yang tidak begitu jelas di awal atau kita tidak sadari adalah, kita tidak lagi mendengar pendapat orang dengan serius, kita akan mengambil keputusan hanya berdasarkan informasi yang kita punya (yang cenderung salah).

Kita lebih khawatir naik pesawat, padahal jumlah kecelakaan di darat jauh lebih banyak. Harusnya kita lebih berhati-hati saat berkendara sehari-hari, dibanding saat naik pesawat yang kita bukanlah pilot yang mengontrol. Ini karena informasi bias yang kita terima.

Dunning–Kruger effect
Salah satu efek dari kognitif bias ini disebut sebagai “Duning-Kruger effect” Ketika kita merasa lebih hebat dari orang lain di bidang tertentu padahal sebenarnya tidak. Sebagai contoh setelah saya menonton beberapa pertandingan sepak bola atau melihat tutorial di youtube bagaimana menggocek, menendang, saya akan merasa lebih baik dibanding timnas yang sedang bermain, muncul suara hati, “jagoan gue daripada dia”. padahal tentu saja ini tidak benar.

Ini terjadi karena kita tidak bisa melihat secara keseluruhan kejadian sebenarnya, yang kita lihat hanya hasil pemikiran sendiri di kepala. Saat kita hanya punya sedikit pengetahuan tentang suatu hal, kita berusaha “menantang” orang lain dan merasa lebih baik.

Orang yang menderita dunning-kruger effect ini juga, cenderung tidak bisa menerima kritik dan sulit untuk memperbaiki dirinya sendiri (karena merasa sudah baik)

Apa penyebab kognitif bias

Arti kata bias sendiri bisa kita terjemahkan ke “kecenderungan”. Seperti yang disindir sebelumnya, ada banyak sekali, langsung saya berikan berbagai contohnya kecenderungan yang membuat kita mengambil keputusan

Informasi pertama
Orang cenderung percaya dengan informasi yang pertama kali diterimanya. Karena itu kita akan mempertanyakan informasi kedua dan ketiga ketika dia berbeda dari yang pertama, sebaliknya kita tidak kritis dengan informasi yang pertama.

Sebagai contoh saat ada info seputar “bumi datar” kita mulai tertarik menggali informasi dan mengkritisi ini, padahal informasi tentang “bumi bulat” pun belum kita buktikan (tenang, saya bukan pasukan flat earth-er), tapi karena kita sudah lama mendengar hal yang pertama, akhirnya hal-hal baru akan menjadi aneh.

Saat ada orang memulai gerakan baru, atau kamu mau membuat sesuatu yang berbeda dari yang lain, suara negatif akan muncul untuk tidak mendukungnya, karena ini adalah informasi asing (berbeda dari yang sebelumnya).

Sudah terlanjur investasi
Mengambil contoh sebelumnya, saat isu bumi datar heboh, kita semangat mencari informasi ini, setelah seharian mengkonsumsinya akhirnya kita cenderung setuju dan mengambil keputusan BUMI ITU DATAR.

Padahal kita belum pernah secara serius menggali apakah BUMI ITU BULAT seserius bumi datar. Tapi karena kita terlanjur berinvestasi ke salah satu informasi, kita ngga lagi mau menerima kalau informasi yang lainnya benar.

Di saat yang sama karena kita sudah punya suatu pendapat, kita akan menghindari mencari sisi negatif dari pendapat yang kita punya. Saat kamu setuju “bumi itu datar”, kamu tidak akan mencari kelemahan/kesalahan argumen di sini, “google search” yang akan kamu lakukan hanya akan mendukung pendapat sebelumnya.

Tidak mencari informasi lain
Sedikit mirip dengan yang sebelumnya, bedanya ini versi yang lebih pasif.

Orang tua baru akan merasa bayinya yang paling imut, dia akan membagikan hampir semua foto tingkah laku bayinnya. Semuanya berpikiran sama.

Kamu merasa masalah kamu yang paling besar
Kamu merasa ide kamu yang terbaik.

Karena kita tidak mencari informasi lain, melihat dari perspektif yang berbeda, kita hanya akan berpendapat pengetahuan kita yang benar.

Pendapat minoritas
Saat sebuah acara selesai dan memasuki sesi tanya jawab, jumlah orang yang tidak mengangkat tangan lebih banyak karena ada magnet, hampir semuanya tidak ada yang berani mulai mengangkat tangan. Berbeda saat pelan-pelan ada satu-dua orang yang berani akhirnya yang lain mulai ikut.

Kita akan dominan pada pendapat mayoritas. Apa yang orang lain, televisi, sosial media dan orang lain bilang akan kita anggap benar, tanpa mengkonfirmasi apakah ini benar-benar hal yang benar atau bukan.

Emosi sesaat
Ini juga sering terjadi, karena ada rasa emosi yang memuncak, kita langsung memutuskan sesuatu. Padahal bisa jadi kalau kita memberi waktu perasaannya hilang, kita bisa lebih rasional.

Kejadian sebelumnya
Saat kita melempar dadu sebanyak tiga kali dan selalu angka “3” yang muncul, kita akan percaya bahwa lemparan dadu ke-4 akan menghasilkan angka “3” lagi, padahal probabilitasnya sama sejak awal, selalu 1:6.

Saat kita mengerjakan sesuatu beberapa kali berhasil, bagian berikutnya kita akan terlena dan tidak lagi berhati-hati karena akan merasa juga pasti berhasil.

Tergoda hasil instan
Makan fast food atau tidak ya malam ini?.. kalau kita memilih berdasarkan hasil instan, kita akan mencari mana yang enak, padahal secara rasional, tentu saja makanan sehat yang harusnya kita pilih, tapi ini hanya akan terlihat di jangka panjang, saat itu ada “hawa nafsu” yang memuncak. Akhirnya kita mengambil keputusan yang salah.

Bagaimana meminimalisir kesalahan mengambil keputusan?

Setelah tahu faktor-faktor yang menyebabkannya. Jadikan itu semua sebagai bahan pertimbangan. Selalu tanyakan ke diri sendiri saat mengambil keputusan penting

Lebih lambat dalam mengambil keputusan kadang menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Selama kamu mengambil keputusan, karena diam juga tidak akan mengantar kita kemana-mana.

Belajar mendengarkan pendapat orang lain dengan serius. Jangan hanya mau didengarkan. Selalu tekan tombol “reset” dengan pengetahuan yang kamu punya sekarang. Tanamkan “kamu bisa salah”, cari tahu mana yang benar, bukan mana yang menurut kamu benar.

Jangan pernah merasa cukup. Yang kamu yakin benar sekarang, bisa jadi karena kamu belum banyak belajar. Selalu cap diri sendiri sebagai seorang pelajar. Edukasi kita tidak berhenti ketika selesai sekolah

Kamu tidak tahu apa yang kamu tidak tahu, sampai kamu tahu

Kalau setelah membaca artikel ini kamu kepikiran tentang seseorang di keluarga atau teman kamu, yang sepertinya hidup di “kognitif bias” ini , kemungkinan besar kamu yang sedang mengalaminya. Kamu kritis terhadap menilai orang lain, tapi tidak ingin menilai diri sendiri :)

Info lainnya

Ada banyak sekali bentuk dan tipenya, kamu bisa mencari informasi lebih banyak di beberapa link ini yang juga jadi refrensi artikel ini:

List of cognitive bias - wiki
What is cognitive bias
12 types cognitive bias
Cognitive bias cheat sheet
The many cognitive biases that screw up everything we do
Dunning Krueger effect

Wed Oct 23, 2019

Lanjut (baca yang lain) >



<< Kembali ke Halaman Awal