🌚 Dark

Mencari cinderella

Di kisah fiksi cinderella, seorang pangeran mengerahkan pasukan istananya untuk mencari siapapun perempuan yang kakinya muat dipasangkan dengan sepatu kaca, tidak peduli apakah orangnya baik atau tidak, selama muat di kakinya.

Seringkali dalam membuat produk kita seperti pangeran ini, sudah membuat semuanya di awal (sepatunya sudah jadi), kita akan mencari konsumen yang muat kakinya, tidak peduli seperti apa konsumennya.

Ada satu cara lain dalam berbisnis, bekerja atau membuat produk, kamu memilih putrinya terlebih dahulu, masalah dia mau pakai sepatu atau sendal, itu urusan belakangan, bahkan kamu bisa membuatkan sepatu yang sesuai dengan keinginan dan pas di kakinya. Mana yang lebih penting dalam situasi ini, sepatu atau putrinya?

Saat kamu memilih mau bekerja di mana, jangan lupa untuk memilih putrinya dulu, karena kamu akan menghabiskan banyak waktu dengan dia bukan sepatunya. Bukan gajinya, bukan popularitasnya, tapi apakah yang kamu kerjakan nyaman untuk kamu. Bantu orang yang mau kamu bantu.

Thu Nov 7, 2019

Mengerti permainan yang kamu mainkan

Seorang juara dunia “youth scrabble champion 2011” berumur 11 tahun bernama Anand Bharadwaj sedang bertanding dalam permainan scrabble dengan pria berumur 50an tahun, Nigel Richards. Kalau ini film-film, mungkin ceritanya akan berakhir dengan anak jenius ini juara dan mengalahkan Nigel. Sayangnya tidak.

Nigel Richards, pria misterus asal New Zealend ini mengalahkan Anand dengan unggul 100 poin. Cerita Anand sebenarnya juga menarik, tapi kali ini kita akan fokus ke Nigel.

Nigel menjuarai U.S. scrabble champion 5 kali, dan juga kompetisi scrabble berbahasa inggris di beberapa negara lain. Mungkin itu tidak terlalu mengejutkan buat kamu, tapi ada satu lagi, Nigel juga menjuarai kompetisi scrabble berbahasa Prancis! .. Dan.. Nigel tidak bisa bahasa Prancis.

Mengerti permainannya

Sedikit tentang scrabble kalau kamu tidak familiar, di permainan papan ini, kamu perlu menyusun kata berdasarkan huruf acak yang kamu dapat, masing-masing hurufnya ada poin. Semakin banyak poin, dialah yang menang.

Dia tahu, dia sedang bermain scrabble, karena itu dia mengasah skillnya dengan menghafal kata-kata termasuk kata yang sulit dari bahasa Prancis. Tidak penting, dia mengetahui artinya atau tidak, yang penting dia bisa menyusun kata di papan scrabblenya nanti.

Dia tidak menghabiskan waktunya untuk mengerti arti setiap kata, tidak juga untuk belajar melafalkan suatu kata atau struktur grammarnya, dia fokus menyerap banyak kosa kata. Hanya butuh beberapa bulan persiapan, sebelum dia berkompetisi scrabble bahasa prancis ini.

Saat kamu tahu, permainan (kerja, tugas, dll.) apa yang sedang kamu mainkan, kamu bisa mengasah skill lebih spesifik dengan waktu yang lebih jelas. Sumber informasi sangat banyak, memilih informasi apa yang mau kamu konsumsi menjadi sangat penting kalau tidak ingin hanyut dalam banjir informasi.

Pahami kamu sedang bermain apa, cari tahu aturan mainnya.

Tentukan satu hal yang kamu inginkan dan Atur jadwal untuk menjadikannya prioritas

Tue Nov 5, 2019

Mengatur jadwal

Lihat jadwal kamu, penuh dengan kegiatan?
jangan bangga dulu, kegiatan-kegiatan tadi belum tentu bermanfaat dan sejalan dengan tujuan kamu.

Lihat lagi satu per satu, mana kegiatan di kalender kamu yang tidak penting. Hapus sekarang. Jangan memprioritaskan apa yang ada di kalender, tapi jadwalkan apa yang menjadi prioritas.

The key is not to prioritize what’s on your schedule,
but to schedule your priorities. - Stephen Covey

Sekolah mungkin ada jadwalnya, begitu juga pekerjaan kamu di kantor sudah ada jamnya. Sekarang, waktunya kamu membuat jadwal sendiri, di luar kegiatan sehari-hari. Tidak cukupkah orang lain mengatur hidup kamu? jangan menunggu jadwal lagi, kamu yang bikin jadwalnya. Prioritaskan apa yang penting, jangan sekedar bikin sesuatu karena sudah ada di kalender

Sun Nov 3, 2019

Tidak punya bos (hidup freelancer)

Sebagian orang bermimpi mau bekerja sebebas mungkin, tanpa bos yang mengatur jadwal dan pekerjaannya.

Untuk yang sudah merasakannya (freelancer atau “anak startup” yang sedang membuat produk) sayangnya tidak seindah bayangan sebelumnya.

Kalau kamu tidak punya bos, berarti kamulah BOSnya. Pertanyaannya apakah kamu bos yang baik atau bos yang buruk?

Uang
Normalnya, tidak ada orang yang ingin bekerja tanpa dibayar. Tapi saat kamu memasuki dunia ini uang menjadi isu yang besar. Kamu tidak menegoisasikan gaji, kamu tidak bisa menuntut siapa-siapa, kamu yang mengatur berapa uang yang mau kamu ambil bulan ini.

Waktu
Tidak ada yang mengingatkan deadline, kalau kamu membuat usaha sendiri kamu yang menentukannya. Kerjaan lewat dari deadline? tidak ada yang marah atau menegur, resikonya akan kamu rasakan sendiri. Lebih cepat dari deadline? tidak ada yang memuji.

Saat bekerja di kantor kamu ingin waktu kerja lebih sedikit, kamu mau istirahat lebih banyak. Sekarang? kamu justru bekerja lebih banyak. Mungkin bukan waktu nya yang kita benci, tapi pekerjaannya.

Keputusan
Setiap hari kamu perlu mengambil keputusan, kamu tidak tahu mana jawaban yang benar. Yang bisa kamu lakukan hanya mencoba. Dulu kamu mau bebas, sekarang kamu sangat bebas, setiap detail keputusan kamu yang memegang. Sesuai dengan harapan kamu?

Sekarang.. Kamu adalah bos diri kamu sendiri. Bagaimana kamu memperlakukan dirimu? bagaimana menyeimbangkannya dengan target yang ingin kamu capai? Bukan pertanyaan yang mudah, tapi perlu kamu tanyakan.

Baca juga tips untuk freelancer

Thu Oct 24, 2019

Bias dalam berpikir (Cognitive bias)

“Jangan membodohi diri sendiri dan kamu adalah orang yang paling mudah untuk dibodohi” - Richard Feynman.

Mengerjakan sesuatu adalah satu hal, mengambil keputusan untuk hal mana yang mau dikerjakan juga hal yang lain. Salah dalam mengambil keputusan perlu kita kurangi, untuk mendekati hasil yang kita inginkan. Yap yang saya tulis adalah mengurangi, karena kita tidak tahu mana keputusan yang 100% tepat.

Bias kognitif (Cognitive bias) adalah kesalahan dalam cara berpikir yang bikin kita salah dalam mengambil keputusan. Saya akan menjelaskan beberapa dasar penyebab dari bias kognitif ini, sebenarnya ada banyak banget dengan istilah psikologinya masing-masing, tapi seperti biasa, tugas saya adalah membuatnya menjadi kalimat yang mudah untuk kamu cerna, saya tidak akan menuliskan setiap istilah bakunya. Jadi kalau kamu mau mencari referensi bakunya di akhir artikel akan saya pasang link, tapi tidak dibahas satu per satu di sini.

Masalah kognitif bias

Yang paling jelas adalah “salah dalam mengambil keputusan”. Yang tidak begitu jelas di awal atau kita tidak sadari adalah, kita tidak lagi mendengar pendapat orang dengan serius, kita akan mengambil keputusan hanya berdasarkan informasi yang kita punya (yang cenderung salah).

Kita lebih khawatir naik pesawat, padahal jumlah kecelakaan di darat jauh lebih banyak. Harusnya kita lebih berhati-hati saat berkendara sehari-hari, dibanding saat naik pesawat yang kita bukanlah pilot yang mengontrol. Ini karena informasi bias yang kita terima.

Dunning–Kruger effect
Salah satu efek dari kognitif bias ini disebut sebagai “Duning-Kruger effect” Ketika kita merasa lebih hebat dari orang lain di bidang tertentu padahal sebenarnya tidak. Sebagai contoh setelah saya menonton beberapa pertandingan sepak bola atau melihat tutorial di youtube bagaimana menggocek, menendang, saya akan merasa lebih baik dibanding timnas yang sedang bermain, muncul suara hati, “jagoan gue daripada dia”. padahal tentu saja ini tidak benar.

Ini terjadi karena kita tidak bisa melihat secara keseluruhan kejadian sebenarnya, yang kita lihat hanya hasil pemikiran sendiri di kepala. Saat kita hanya punya sedikit pengetahuan tentang suatu hal, kita berusaha “menantang” orang lain dan merasa lebih baik.

Orang yang menderita dunning-kruger effect ini juga, cenderung tidak bisa menerima kritik dan sulit untuk memperbaiki dirinya sendiri (karena merasa sudah baik)

Apa penyebab kognitif bias

Arti kata bias sendiri bisa kita terjemahkan ke “kecenderungan”. Seperti yang disindir sebelumnya, ada banyak sekali, langsung saya berikan berbagai contohnya kecenderungan yang membuat kita mengambil keputusan

Informasi pertama
Orang cenderung percaya dengan informasi yang pertama kali diterimanya. Karena itu kita akan mempertanyakan informasi kedua dan ketiga ketika dia berbeda dari yang pertama, sebaliknya kita tidak kritis dengan informasi yang pertama.

Sebagai contoh saat ada info seputar “bumi datar” kita mulai tertarik menggali informasi dan mengkritisi ini, padahal informasi tentang “bumi bulat” pun belum kita buktikan (tenang, saya bukan pasukan flat earth-er), tapi karena kita sudah lama mendengar hal yang pertama, akhirnya hal-hal baru akan menjadi aneh.

Saat ada orang memulai gerakan baru, atau kamu mau membuat sesuatu yang berbeda dari yang lain, suara negatif akan muncul untuk tidak mendukungnya, karena ini adalah informasi asing (berbeda dari yang sebelumnya).

Sudah terlanjur investasi
Mengambil contoh sebelumnya, saat isu bumi datar heboh, kita semangat mencari informasi ini, setelah seharian mengkonsumsinya akhirnya kita cenderung setuju dan mengambil keputusan BUMI ITU DATAR.

Padahal kita belum pernah secara serius menggali apakah BUMI ITU BULAT seserius bumi datar. Tapi karena kita terlanjur berinvestasi ke salah satu informasi, kita ngga lagi mau menerima kalau informasi yang lainnya benar.

Di saat yang sama karena kita sudah punya suatu pendapat, kita akan menghindari mencari sisi negatif dari pendapat yang kita punya. Saat kamu setuju “bumi itu datar”, kamu tidak akan mencari kelemahan/kesalahan argumen di sini, “google search” yang akan kamu lakukan hanya akan mendukung pendapat sebelumnya.

Tidak mencari informasi lain
Sedikit mirip dengan yang sebelumnya, bedanya ini versi yang lebih pasif.

Orang tua baru akan merasa bayinya yang paling imut, dia akan membagikan hampir semua foto tingkah laku bayinnya. Semuanya berpikiran sama.

Kamu merasa masalah kamu yang paling besar
Kamu merasa ide kamu yang terbaik.

Karena kita tidak mencari informasi lain, melihat dari perspektif yang berbeda, kita hanya akan berpendapat pengetahuan kita yang benar.

Pendapat minoritas
Saat sebuah acara selesai dan memasuki sesi tanya jawab, jumlah orang yang tidak mengangkat tangan lebih banyak karena ada magnet, hampir semuanya tidak ada yang berani mulai mengangkat tangan. Berbeda saat pelan-pelan ada satu-dua orang yang berani akhirnya yang lain mulai ikut.

Kita akan dominan pada pendapat mayoritas. Apa yang orang lain, televisi, sosial media dan orang lain bilang akan kita anggap benar, tanpa mengkonfirmasi apakah ini benar-benar hal yang benar atau bukan.

Emosi sesaat
Ini juga sering terjadi, karena ada rasa emosi yang memuncak, kita langsung memutuskan sesuatu. Padahal bisa jadi kalau kita memberi waktu perasaannya hilang, kita bisa lebih rasional.

Kejadian sebelumnya
Saat kita melempar dadu sebanyak tiga kali dan selalu angka “3” yang muncul, kita akan percaya bahwa lemparan dadu ke-4 akan menghasilkan angka “3” lagi, padahal probabilitasnya sama sejak awal, selalu 1:6.

Saat kita mengerjakan sesuatu beberapa kali berhasil, bagian berikutnya kita akan terlena dan tidak lagi berhati-hati karena akan merasa juga pasti berhasil.

Tergoda hasil instan
Makan fast food atau tidak ya malam ini?.. kalau kita memilih berdasarkan hasil instan, kita akan mencari mana yang enak, padahal secara rasional, tentu saja makanan sehat yang harusnya kita pilih, tapi ini hanya akan terlihat di jangka panjang, saat itu ada “hawa nafsu” yang memuncak. Akhirnya kita mengambil keputusan yang salah.

Bagaimana meminimalisir kesalahan mengambil keputusan?

Setelah tahu faktor-faktor yang menyebabkannya. Jadikan itu semua sebagai bahan pertimbangan. Selalu tanyakan ke diri sendiri saat mengambil keputusan penting

Lebih lambat dalam mengambil keputusan kadang menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Selama kamu mengambil keputusan, karena diam juga tidak akan mengantar kita kemana-mana.

Belajar mendengarkan pendapat orang lain dengan serius. Jangan hanya mau didengarkan. Selalu tekan tombol “reset” dengan pengetahuan yang kamu punya sekarang. Tanamkan “kamu bisa salah”, cari tahu mana yang benar, bukan mana yang menurut kamu benar.

Jangan pernah merasa cukup. Yang kamu yakin benar sekarang, bisa jadi karena kamu belum banyak belajar. Selalu cap diri sendiri sebagai seorang pelajar. Edukasi kita tidak berhenti ketika selesai sekolah

Kamu tidak tahu apa yang kamu tidak tahu, sampai kamu tahu

Kalau setelah membaca artikel ini kamu kepikiran tentang seseorang di keluarga atau teman kamu, yang sepertinya hidup di “kognitif bias” ini , kemungkinan besar kamu yang sedang mengalaminya. Kamu kritis terhadap menilai orang lain, tapi tidak ingin menilai diri sendiri :)

Info lainnya

Ada banyak sekali bentuk dan tipenya, kamu bisa mencari informasi lebih banyak di beberapa link ini yang juga jadi refrensi artikel ini:

List of cognitive bias - wiki
What is cognitive bias
12 types cognitive bias
Cognitive bias cheat sheet
The many cognitive biases that screw up everything we do
Dunning Krueger effect

Wed Oct 23, 2019

Menjaga kesehatan mentalmu

Saat ditanya “di mana kamu banyak menghabiskan waktu sekarang” pada salah satu wawancaranya, Elizabeth Gilbert, penulis buku best seller, menjawab bahwa pekerjaannya sekarang adalah fulltime menjaga kesehatan mentalnya. Sekilas mungkin terlihat berlebihan, kenapa sih harus fulltime menjaga kesehatan mental kita?

Tidak terlihat seperti penyakit fisik yang lain, sakit secara mental bahayanya bisa lebih besar. Jangan lupa untuk terus memperhatikan kesehatan mental kita sendiri. Masalah ini bisa membawa ke depresi yang sangat dekat dengan tindakan bunuh diri.

Tidak ada yang mau melakukan ini di saat sadar, tidak ada juga yang mau orang dikenalnya melakukan ini. Karena itu jangan menganggap remeh masalah penyakit mental ini.

Beberapa tips menjaga kesehatan mental

Harga diri sendiri, jangan mudah menghakimi gagal hanya karena satu kesalahan. Belajar memaafkan diri sendiri. Tidak ada yang sempurna.. tidak ada. Jangan terlena dengan orang lain yang terlihat sempurna. Tidak ada yang sempurna.

Ngobrol sama teman yang kamu nyaman, bukan teman di sosialmedia, tapi dunia nyata. Yang kamu ngga malu kentut dekat dia. (Poinnya tentu saja kamu kentut dekat dia terus, tapi menandakan tidak ada yang kamu rahasiakan). Telfon jika sudah jarang bertemu, memang agak aneh saat di awal.

Punya aktivitas yang asyik. Waktu bangun kamu jangan sampai 100% hanya untuk kerja. Apa hobi kamu, apa olahraga yang kamu suka, sediakan waktu untuk itu.

Setelah mengerjakan tugas berat, traktir diri kamu sendiri, beri hadiah yang mengembalikan mood dan semangat. Hadiahnya tidak selalu fisik. Bisa jadi jalan ke taman atau bentuk lainnya yang kamu suka.

Sediakan waktu untuk berpikir, apa yang bisa kamu perbaiki, siapa yang bisa kamu hubungi, dan pertanyaan-pertanyaan penting lainnya. Terus sibuk dari satu hal ke hal lain tanpa waktu kosong diri sendiri juga tidak baik.

Sediakan waktu dan lebih aktif bertanya saat temanmu terlihat berbeda dari biasanya. Orang lebih cenderung menyimpan sakit mental sendiri.

Yang terakhir dan sebenarnya pertama, kamu punya Tuhan, Tuhan yang menciptakan semuanya, setiap hari berusaha mendekat denganNya, jangan malu dan takut, Dia tahu semuanya. Masalah kamu akan diselesaikan, meskipun semuanya terlihat sulit dan tidak mungkin.

Apakah ini hal memalukan?

Kalau kamu merasa sudah banyak uang dan sudah populer, sayangnya justru kita banyak mendengar kabar bunuh diri dari kalangan ini. Hal-hal duniawi sama sekali bukan jaminan kamu bisa terbebas dari masalah penyakit mental ini.

Pernyakit mental adalah hal yang umum yang setiap dari kita bisa rasakan. Menjaga kesehatan mental bukanlah hal yang memalukan. Jangan malu meminta bantuan dan bertanya seputar tema ini. Bikin hal ini menjadi lazim untuk diobrolkan.

Mon Oct 21, 2019

Marah ke orang tua

Saya sering mendengar curhat-an orang lain kalau orang tua mereka tidak paham dengan apa yang ada di pikirannya. Kalau kamu ada di posisi yang sama, coba cek lagi, mungkin pekerjaan orang tua kamu bukan dukun dan peramal, makanya mereka tidak langsung tahu apa yang ada di pikiran kamu.

Tugas pertama yang perlu kamu lakukan adalah berkomunikasi dengan jelas, ketika orang tua berbeda paham. Bukan membanting pintu atau kabur dari rumah. Sediakan waktu yang pas untuk berbicara, bukan saat keadaan emosi sudah memuncak baru mengeluarkan semuanya.

Ini bukan drama di televisi yang semuanya serba asyik kalau didramatisir, kamu sedih lalu kabur dan pada akhirnya membuktikan kamu yang benar. Ini kehidupan nyata, kamu punya orang tua yang sudah berkorban terlalu banyak, kamu juga perlu mengerti. Bukan hanya mau dimengerti.

Berbicara, sampaikan pendapat kamu, TAPI, tanyakan juga pendapat orang tua kamu. Tanpa komunikasi yang jelas, bagaimana caranya kita berharap bisa saling memahami. Termasuk soal kerja, pasangan hidup, pendidikan dan lainnya.

Buktikan juga kalau kamu sudah dewasa dengan bisa mencari uang sendiri, berapa banyak anak yang melawan orang tuanya, merasa pilihannya tepat, tapi tanpa sadar dia masih tinggal dan hidup penuh dibiayai orang tuanya, wajar saja orang tua kamu khawatir. Buktikan kalau kamu memang sudah bisa mandiri, setelah kamu bisa mencari uang sendiri, akan banyak perspektif yang berubah.

Kamu bisa mengganti teman, tempat belajar, tempat kerja dan lainnya, tapi orang tua tidak. Kamu tidak memilihnya dan mereka tidak memilih kamu. Tidak ada yang kebetulan.

Jangan hanya berkomunikasi saat marah atau ada masalah, rutinkan untuk mengobrol sehari-hari, bisa lewat teh atau kopi.

Thu Oct 17, 2019

Pengetahuan itu potensi bukan aksi

Kamu sudah baca banyak blog, nonton banyak video youtube, mengkonsumsi berbagai media belajar tapi tidak ada yang berubah dari hidup kamu. Akhirnya kamu stress, merasa bodoh dan tidak bisa apa-apa.

Semua yang kamu pelajari adalah pengetahuan. Semua pengetahuan yang kamu punya saat tidak dipraktekkan tidak akan jadi apa-apa. Bayangkan saja rumusnya seperti ini:

Praktek X Pengetahuan = Hasil.

Pengetahuan kamu 1000? praktek kamu nol?

0 x 1000 = 0

Wajar saja tidak ada yang berubah, yang kamu pelajari tidak dipraktekkan. Sebaliknya kalau yang kamu praktekkan baru sedikit dan tidak sempurna:
1 x 1000 = 1000

walaupun usaha kamu hanya bernilai 1, tapi itu sudah bernilai 1000. Jangan tanya lagi mana yang lebih penting, teori atau praktek. Dua-duanya penting. Rumusnya perkalian, salah satunya besar dan selama tidak nol, kamu akan melihat hasilnya.

Praktek, sedikit demi sedikit, hasilnya akan terlihat.

Wed Oct 16, 2019

Merasa orang lain akan paham

Antar teman, dosen ke mahasiswa, pemilik bisnis ke pengguna, orang tua ke anak atau setiap interaksi yang ada memerlukan komunikasi. Bukan hanya komunikasi, tapi komunikasi yang jelas. Tidak jarang dua pihak berkelahi hanya karena asumsi di kepala masing-masing.

Saat kamu ingin berbicara sesuatu, sampaikan dengan jelas. Tidak setengah-setengah dan tidak berasumsi orang lain pasti akan mengerti. Kamu dan dia punya pemikiran yang berbeda, satu kejadian bisa melahirkan banyak makna.

Clear is kind
Unclear is unkind
-Brene Brown

“Jelas itu baik, tidak jelas itu tidak baik”.
Kalau kamu seorang pemimpin di perusahaan atau komunitas kamu, pastikan memberi tugas dengan jelas. Sering kali tugas tidak diselesaikan dengan benar, akhirnya kita marah ke orang lain, padahal komunikasi kita yang tidak jelas. Orang yang diberi tugas pun jangan pura-pura mengerti saat ada yang tidak jelas. Biasakan bertanya.

Kalau kamu seorang freelancer ada permintaan bos atau klien yang kurang dipahami, tanyakan ke mereka. Bukan “iya iya” tapi setelah itu panik bertanya di forum-forum umum, padahal orang lain tidak mengerti konteks yang kamu bicarakan. Tanyakan sedetail mungkin, sampai kamu mengerti. Orang lain bukan musuh kamu, jangan menghindari dari komunikasi yang jelas.

Ketika pemerintah mengeluarkan undang-undang misalnya, tidak adanya media yang jalan untuk menjelaskan kenapa sebuah undang-undang atau aturan diperlakukan, hanya akan terdengar seperti seorang atasan yang bersifat otoriter mengatur bawahan. Saya harus meralat, bukan tidak ada media, tapi tidak memanfaatkan media.

Mungkin dalam hati kamu bilang “tapi selama ini diundang kok ke televisi’, sayangnya saat sudah terlambat, media pun akan meliput bagian yang seru, bukan yang membosankan. Ketika ada demo besar-besaran, barulah narasumber diundang. Kenapa tidak saat semuanya masih tenang, mengundang semua pihak yang terkait untuk berkomunikasi dengan jelas.

Itu yang sifatnya “pasif”, menunggu diundang. Tapi kita bisa “aktif”, dengan menggunakan sosial media, tulisan atau video. Yang penting, sampaikan dengan jelas.

Hal ini diperparah ketika orang berkomunikasi via digital. Baik itu sms/whatsapp atau twitter. Di mana tidak ada nada(intonasi) ketika orang berbicara. Tidak jelas, apakah orang lain dalam keadaan marah atau berbicara biasa. Akhirnya pihak lain akan mengasumsikan kalau yang diseberang sana sedang emosi dan membalasnya dengan emosi. Api dilawan dengan api.

Kalau ada persoalan yang penting, usahakan bertemu langsung, atau paling tidak lewat call, suara atau video. Agar dua pihak sadar, kalau yang ditemani berbicara adalah manusia, bukan mesin yang kita bisa seenaknya menuduh tidak jelas.

Saat kamu berbicara, sampaikan dengan jelas dan tenang, berikan konteks. Orang lain tidak paham, kamu juga tidak. Hindari asumsi.

Wed Oct 16, 2019

Menyulap bisnis (mencari jalan instan)

Ada vitamin ada obat. Vitamin dalam menjalankan sesuatu adalah “tambahan semangat” demgan mengingat kenapa kita memulainya atau mendapat motivasi, sementara Obat dibutuhkan saat kita depresi menjalankan bisnis yang tidak kunjung berhasil. Lalu apa obatnya?

Untuk saya sendiri, obatnya adalah mendengar atau membaca cerita orang lain. Istilah “Sukses semalam hanya butuh 10 tahun”ini bukan sekedar istilah. Saat kita mendengar orang lain sudah sukses di media, kita tidak benar-benar mencari tahu apa yang terjadi sebelum mereka berhasil.

Perusahaan besar di Indonesia seperti traveloka, bukalapak, gojek dan lainnya, paling tidak butuh +- 10 tahun untuk bisa sampai di titik sekarang. Ketika para anak muda mendengar kisah sukses para unicorn ini, mereka akan terinspirasi untuk mulai membuat sesuatu.

Sayangnya tidak sampai satu tahun atau mungkin hanya berbulan-bulan sampai mereka memutuskan untuk menyerah dan berhenti mengejar mimpinya. Mereka lupa kalau kesuksesan ini hanya butuh 10 tahun. Tidak ada sulap dalam bisnis. Selamat bekerja keras.

Kalau kamu mencari jalan instan, kabar baiknya ada, tapi jalan instan untuk menyerah, bukan jalan instan untuk berhasil.

Mon Oct 14, 2019

Lanjut (baca yang lain) >



<< Kembali ke Halaman Awal