🌚 Dark

Saat kamu siap, guru akan hadir

Skill yang bisa dengan mudah dipelajari (diajarkan), berarti akan mudah ditiru oleh orang lain. Karena itu kamu tidak bisa mengandalkan tempat umum sebagai satu-satunya sumber belajar seperti sekolah atau kampus. Karena materi yang diajarkan sama, semua orang mendapatkan hal yang sama. Lalu dari mana kita bisa mendapatkan ilmu yang spesial?

Apakah kamu sudah siap?

“Ketika murid sudah siap, guru akan hadir .. ”
Lao Tzu

Saya tidak tahu konteks pasti dari Lao Tzu mengatakan ini di jaman dulu, yang pasti saat pertama kali membaca, saya benar-benar jatuh cinta dengan kalimatnya.

Kondisi di sekolah/kampus, bisa jadi dari puluhan siswa yang duduk, hanya 1-2 orang yang benar-benar paham apa yang disampaikan. Padahal siswa ini ada di sana, gurunya pun ada di sana secara fisik. Mungkin bukan fasilitasnya tidak ada, tapi memang muridnya yang tidak siap untuk belajar. Gurunya ada secara fisik, tapi dia tidak siap.

Saya akan keluar dari konteks kampus, jangan membatasi diri, kita bisa bergabung ke komunitas tempat orang-orang tertarik di bidang yang sama, atau belajar online untuk memahami sesuatu, mengikut tulisan atau catatan seorang mentor yang tidak mengenal kita, tapi sudah berpengalaman di bidangnya. Semua guru ini sudah ada, tapi dia tidak akan hadir sampai kita benar-benar siap untuk belajar. Di depan mata kita ada hijab penghalang untuk sungai ilmu yang sudah mengalir.

Yang pasti, saat keinginanmu untuk belajar sesuatu sudah sangat besar, pasti akan ada jalan dan guru yang hadir. Apapun bentukanya, orang fisik yang ada di satu tempat (bisa jadi kita yang mendatanginya), via media online, lewat pengalaman seseorang atau kejadian yang kita alami sendiri, yang pasti ilmu dan gurunya ada, ketika kita sudah siap untuk belajar.

Saat kamu mengeluh, “aduh belajar ini dimana ya”, atau “ko saya tidak paham-paham ya?” dan alasan lainnya, coba koreksi lagi, mungkin keinginan kamu untuk belajar yang masih kurang.

Ketika kamu sudah benar-benar siap

Kutipan Lao Tzu di atas ada belum selesai..

“Ketika murid sudah siap, guru akan hadir ..
Ketika murid sudah benar-benar siap, guru akan pergi”

Ilmu yang kamu akan dapatkan dari guru tertentu pun bisa mencapai puncak. Kamu tidak harus belajar hanya dari satu guru yang sama. Ketika kamu sudah paham dengan ilmu tertentu, bisa jadi tugas guru tersebut terhadap kamu sudah selesai. Dia sudah bisa pergi, melanjutkan ajarannya ke murid yang lain, begitu juga kamu, melanjutkan belajar ke guru berikutnya. Bukan berarti rasa hormat dan cinta ke guru kita sebelumnya ikut pergi, tetap doakan dan menawarkan bantuan terhadap guru kita, bagaimana kita bisa membantunya melanjutkan kebaikan berikutnya.

Sama seperti rintangan yang akan bertambah, seiring skill kamu yang terus naik, guru pun akan bertambah, jangan terkekang hanya belajar dari satu sumber ilmu, cari mata-mata air ilmu jernih lainnya. Hormati ajaran mereka, hormati perbedaan pendapat mereka dan praktekkan apa yang kamu dapatkan. Seorang guru justru akan sangat senang, ketika muridnya sudah melebihi apa yang dia mampu ajarkan.

Belajar berpikir

Kembali ke masalah awal, ketika suatu ilmu bisa dengan mudah diajarkan, maka kamu tidak akan menjadi spesial. Jangan berharap mendapatkan ilmu dari tempat yang terlalu jelas, bayangkan ilmu seperti emas atau berlian, perlu digali, sulit didapatkan, dan perlu ditempa / dipoles hingga menjadi berharga.

Kamu perlu berpikir, tidak cukup hanya menerima ilmu mentah-mentah. Latih diri kamu untuk melihat sesuatu yang tidak jelas, latih diri kamu untuk sabar. Karena semua orang ingin instan, dan ilmu yang spesial tidak didapatkan dengan cara instan.

Belajar bukan aktivitas pasif.
Kamu perlu aktif menyiapkan diri kamu untuk menerima ilmu yang spesial, tidak menunggu
Kamu perlu aktif berpikir dan bertanya tentang ilmu yang kamu dapatkan

Tue Jan 21, 2020

Kelelahan informasi

Prediksi orang-orang dulu kalau dengan teknologi, manusia akan jadi lebih santai dan bisa menikmati hidup, tidak 100% akurat. Yang terjadi, sumber informasi yang sangat mudah didapat bikin orang-orang kecanduan mengkonsumsinya.

Tanpa sadar, kita haus untuk terus mengetahui hal-hal yang sering kali tidak penting. Kita takut ketinggalan, khawatir tidak update. Notifikasi whatsapp, telegram, line menyala, siap berlomba dengan instagram, facebook dan lainnya.

Kita takut jika HP nya dalam mode “silent” akan ada satu kabar yang lewat, tidak mau tertinggal walaupun cuma beberapa menit. Muncul rasa wajib untuk membaca A sampai Z, menonton video, dan masih banyak antrian yang tentunya tidak akan habis sampai waktu kita habis.

Sampai kita merasa stress tidak bisa mengikuti semuanya, tidak bisa membadakan mana yang benar, mana yang salah. Gejala ini disebut sebagai information fatigue, kondisi kita yang kelelahan dengan banjir informasi yang ada.

Efek information fatigue

Rasa bersalah

Muncul rasa bersalah kenapa kita tidak sanggup untuk terus mengikuti informasi yang ada. Kita merasa bodoh, merasa kurang dari yang lain. Bikin jadi tidak percaya diri

Terburu-buru

Meskipun terasa lelah, rasa yang muncul justru semakin bertambah, kita harus terus mengkonsumsi berita berikutnya. Akhirnya menjadi terburu-buru mengerjakan sesuatu, semuanya harus cepat selesai, agar bisa melanjutkan ke aktivitas berikutnya, berharap bisa menyelesaikan semuanya.

Sulit Konsentrasi

Untuk konsentrasi pun menjadi sulit, kita tidak bisa fokus mengerjakan satu hal, kita mau menguasai semuanya, kita takut tertinggal dengan kawan kita yang sedang bahagia di sosial media sana. Kita mau menguasa semua skill secara bersamaan. Seperti pepatah rusia “kejar dua kelinci, dan kamu tidak akan mendapatkan keduanya”

Tidak bisa mengambil keputusan

Karena jumlah informasi yang tidak valid terlalu banyak, kamu tidak tahu lagi mana sebenarnya yang benar. Menjadi bias dalam mengambil keputusan atau menjadi sama sekali tidak bisa mengambilnya.

Lupa tujuan sebenarnya

Karena asyik mengejar semuanya, kita jadi lupa apa sebenarnya yang harus dikerjakan, larut dengan perlombaan dan informasi, lupa dengan apa yang sebenarnya penting untuk diri ini. Kamu perlu waktu diam sejenak dan berpikir apa sebenarnya yang penting untuk kamu lakukan

Mengurangi information fatigue

Kalau informasi adalah jawabannya, harusnya kita semua sudah bahagia.

Kita tidak kekurangan informasi saat ini, yang perlu kita lakukan adalah bijak dalam memilih mana informasi yang diperlukan.

Tidak ada yang peduli

Ketakutan untuk ketinggalan ada di kepala semua orang, termasuk saya dan kamu. Kabar baiknya orang lain juga punya banyak urusan, mereka tidak sempat untuk menguji kamu apakah kamu sudah update dengan semua berita terbaru hari ini.

Jika penting, beritanya akan sampai

Salah satu kekhawatiran saat tidak mengkonsumsi berita adalah ada hal darurat yang harus kita tahu sesegera mungkin, padahal pada faktanya, jika kabar tersebut benar-benar penting dan kita bisa melakukan sesuatu untuk itu, beritanya akan sampai ke telinga.

Tidak ada yang ahli di semua hal

Jangan berharap kamu bisa menguasai semuanya sekaligus, orang lain pun tidak ada yang bisa SEMUA HAL. Kamu selalu merasa terbelakang dan akhirnya mau menguasai banyak hal, padahal sama sekali tidak ada orang yang bisa mengerjakan semuanya, kalaupun ada, ini bukan masalah untuk kita.

Bikin sesuatu

kamu hanya konsumen, orang-orang mengambil untung dari kekuatan konsumsi kamu yang luar biasa. Lebih parah lagi, kamu adalah produk, orang-orang menjual “perhatian kamu” ke perusahaan besar untuk keuntungan mereka. Belajarlah membuat sesuatu, tuangkan pengetahuan kamu, tidak harus dipublish ke banyak orang, kamu bisa mulai menulis sendiri atau berbagi dengan teman secara langsung

Unfollow

Belajar untuk unfollow seseorang/media di sosial media yang tidak penting untuk kehidupan kamu. Saya pernah membuat catatan tentang siapa yang harus kamu follow di sini

Sekarang coba matikan laptop dan handphonemu :), kembali berpikir tentang apa sebenarnya hal yang penting untuk kamu lakukan

Wed Jan 15, 2020

Belajar untuk punya waktu sendiri

Saat bangun tadi, apakah kamu secara automatis mencari smartphone? . Sebelum tidur pun mungkin ini hal terakhir yang dipegang, sebelum meletakkannya di tempat yang dekat dari jangkauan, agar setiap ada bunyi notifikasi, bisa segera membaca pesannya. Meskipun hanya pesan grup, meskipun hanya informasi umum yang kamu tidak perlu tahu.

Di smartphone ada banyak hal menarik, 2 peringkat teratas ada game online dan sosial media. Dengan game online, bisa bermain kapan saja dengan teman. Dengan sosial media, bisa selalu mengintip apa aktivitas mereka saat ini. Semuanya bisa dilakukan saat sedang di rumah, saat sedang sendiri. Hmmm.. tapi tidak adil kalau saya hanya menyebutkan kedua hal tadi, dengan smartphone juga kita bisa memantau pekerjaan, bahkan melakukan pekerjaan itu sendiri. Tidak ada lagi rasa sepi yang datang, kita bisa terhubung kapan saja dengan siapa saja.

Rasa Sepi

Bagaimana? apakah kamu setuju dengan pernyataan “Tidak ada lagi rasa sepi yang datang” ?.

Saya merasa justru sebaliknya. Dibandingkan dulu, rasa sepi justru lebih sering hadir. Teknologi bisa menyelesaikan beberapa masalah, tapi tidak dengan hubungan langsung antar manusia. Saya masih ingat, saat masih kecil bermain kelereng dimanapun ada tanah, atau bermain tanpa alat sekalipun bisa, asal jumlah orangnya cukup, mulai dari main benteng, petakumpet, kejar-kejaran dan segudang permainan lainnya. Saat berlibur dengan keluarga pun, jauh terasa lebih nikmat, ketika harus pergi ke tempat di mana koneksi internet dan sinyal susah didapatkan.

Sayangnya, semakin tua, kita punya banyak alasan tidak bisa berkumpul seperti dulu lagi. Masing-masing punya kesibukan, pekerjaan, istri, anak atau sudah punya kelompok sendiri. Mengatur waktu untuk bertemu sudah sulit, di sinilah teknologi hadir, membantu kita berkomunikasi, meskipun tidak sempat bertemu langsung. Dalam beberapa kasus, seperti tentara yang sedang berjuang di luar, pelajar yang menuntun ilmu di negeri lain, teknologi bisa jadi satu-satunya solusi.

Masalah hadir, ketika kita bergantung dengan smartphone (teknologi) ini. Magnet yang dibentuk terlalu kuat, kita tidak lagi berpisah dengan smartphone. Kita lupa, ada satu orang lagi yang selama ini belum terhubung baik dengan dia.. yaitu diri kita sendiri.

Kita butuh koneksi

Bukan hanya orang lain yang butuh perhatian, kamu juga. Kita terlalu bersatu dengan diri ini, sampai kita lupa, diri ini juga manusia, yang butuh koneksi.

Prediksi orang dulu, di mana dengan teknologi kita bisa hidup lebih santai, sepertinya jauh dari kenyataan. Manusia justru terlihat semakin sibuk, semakin tidak bisa berkonsentrasi dan semakin mudah khawatir dengan banyak hal.

Kita bisa memberi orang lain saran, ketika dia sudah bercerita tentang masalahnya. Bagaimana mungkin kita bisa berhenti stress, ketika kita sendiri tidak berani bercerita atau memikirkan masalah yang kita hadapi sekarang ke diri sendiri. Kita lebih senang menghindari masalah, biarkan semuanya berlalu, tidak memikirkan, bahwa dia bisa menjadi tumpukan bom yang siap meledak suatu saat nanti.

Kita takut sendiri

Saat masih kecil, saya takut sendiri, alasannya terlalu banyak menonton dan mendengar cerita seram. Saat ini berbeda, saya takut sendiri karena harus berhadapan dengan pikiran saya sendiri. Saat sendiri, saya perlu menghadapi masalah yang ada di kepala, saya perlu memikirkan masalah finansial, keluarga, pekerjaan, dan banyak hal lagi.

Padahal hal-hal tadi selama ini pun sudah terjadi, kita membohongi diri sendiri, dengan pura-pura tidak melihatnya. Kita bersembunyi, berharap ada orang lain yang mengerti diri kita sendiri, dan bisa menyelesaikan masalahnya. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib kita, sampai kita berusaha untuk merubahnya?

Tidak punya teman

Faktor lain, kita ingin terlihat sibuk, menerima banyak pekerjaan, selalu berkumpul setiap ada kesempatan, terlepas penting atau tidak, kita takut dikatakan “tidak punya teman”, kita takut dengan stigma orang lain, kalau kita penyendiri dan tidak pandai bergaul.

Saya termasuk orang yang tidak begitu senang mengunggah aktivitas dunia nyata saya di sosial media. Di dunia nyata, saya punya banyak teman dekat yang kami bisa menghabiskan waktu selama mungkin tanpa ada rasa bosan, tanpa perlu orang lain tahu. Saya juga bergabung di beberapa komunitas dan terus memperluas koneksi. Sebaliknya, ada orang yang sangat memaksakan ingin terlihat punya banyak teman, ketika mereka hanya berbicara saat ingin foto bersama.

Kita takut saat sedang tidak bergabung ke acara tertentu atau saat tidak mengunggahnya di sosial media, orang lain akan bilang “kita tidak punya teman”. Ada satu rahasia, ini sebenarnya hanya di kepala kamu saja, orang lain punya banyak masalah, mereka tidak punya banyak waktu, untuk memikirkan kamu 24 jam. Kamu terlalu berlebihan memikirkan ini.

Belajar Sendiri

Yang saya maksud, bukan hidup menjomblo selamanya atau tidak mau lagi berteman. Jauh dari itu. Yang saya tawarkan di sini, adalah mulai mengosongkan jadwal kamu yang luar biasa padat, termasuk jadwal yang tidak tertulis, yaitu jadwal bermain game online dan sosial media, mulai kosongkan jadwal tersebut, gunakan untuk “waktu sendiri”.

Waktu sendiri adalah waktu di mana kita berdua dengan diri ini, kita curhat tanpa ada batasan, siapa lagi yang mengenal diri ini, selain kita sendiri? Sampaikan masalah apa yang kamu punya, hal apa yang ingin kamu lakukan, apa cita-cita kamu sebenarnya, dan pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya, yang selalu kita hindari. Atau yang tanpa sadar, tidak kita tanyakan karena koneksi tanpa henti dengan orang lain, di dunia nyata dan maya, sampai lupa dengan diri sendiri.

Kalau bingung memulainya, mulai hari ini. Kosongkan 10 menit saja malam ini, cari tempat yang sepi, mulai mengulas apa saja yang terjadi hari ini dengan kamu, apa hal yang kamu senangi, kenapa? siapa orang-orang yang bikin kamu senang hari ini, kenapa? mulai dari hal-hal positif ini.

Sampai beberapa kali, ketika diri kamu bukan lagi orang asing, kamu bisa mulai membicarakan hal negatif yang terjadi. Seperti kejadian apa hari ini yang membuat kamu tidak nyaman? bagaimana kamu bisa menyelesaikan masalahnya? Kenapa kamu marah dan hal lainnya.

Setelah kamu nyaman membicarakan hal positif ataupun negatif, kamu bisa membuat lingkup obrolanya lebih luas, seperti kalau kamu punya pasangan, sifat seperti apa yang kamu inginkan, atau apa cita-cita kamu sebenarnya selama ini, bagaimana kamu bisa mengkongkritkan ke langkah-langkah kecil dan mulai merealisasikannya.

Hal menariknya, bukan hanya diri kamu yang merasakan, dengan punya waktu sendiri, kamu bisa belajar berpikir lebih jernih, bisa melihat jelas kebaikan sesesorang dan memaklumi kesalahannya. Dengan melihat dari sudut pandang yang jauh, kamu bisa lebih bersyukur dengan hal-hal yang kamu dapatkan, tidak lagi mudah mengeluh untuk hal kecil.

Dengan membiarkan semua hal terjadi begitu saja, kamu akan sedikit bersyukur, tidak merenungkan kalau teman, keluarga dan setiap kejadian kecil adalah pemberian Tuhan yang luar biasa.

Kamu butuh waktu ini, belajar untuk sendiri.

Tue Jan 14, 2020

Manusia melawan Mesin

Saat diwawancara pertama kali, Lee Sedol, pemain Go profesional asal Korea Selatan dengan tegas menjawab akan menang “5-0” atau paling tidak “4-1” atas pertandingannya melawan mesin “alphago” buatan DeepMind, perusahaan asal Inggris.

Sebuah kejutan besar hadir, pertandingan pertama Lee melawan AlphaGo, berhasil dimenangkan oleh si mesin! Ini bukan pertandingan tertutup, seluruh dunia menyaksikan. Seorang pemain terbaik Go dunia kalah dengan mesin!.

Berbagai komentar di media hadir, termasuk dari para pemain Go profesional yang sangat takjub dengan permainan alphago, yang bisa dibilang, hampir tidak mungkin gerakannya dipikirkan oleh manusia.

Normalnya saat ada di posisi Lee, kita akan malu dan menyerah. Mungkin yang pertama benar, Lee mungkin malu, tapi tidak dengan menyerah. Dia hadir di pertandingan ke dua - tiga dan seterusnya.

Dengan jujur Lee mengatakan kalau dia tidak mengekspektasi hasil ini. Pertandingan kedua dan ketiga hasilnya sama, Lee kalah oleh mesin ini. Meskipun pada pertandinga ketiga dia berusaha mengubah cara bermainnya, yang berakhir lebih buruk.

Pertandingan ke 4, Lee tetap hadir.. dan AlphaGo menyerah! untuk pertama kali, setelah alphago melakukan kesalahan, Lee berhasil menang! seluruh dunia menyaksikan ini, seluruh dunia ikut senang dengan hasil ini. Lee bukan hanya mewakili dirinya atau negaranya, tapi manusia!

Sayangnya ini bukan cerita dongeng, Lee kalah kembali di pertandingan kelima, rasa sedih yang begitu kuat hadir di ruangan konferensi setiap kali Lee harus memberi tanggapan setelah pertandingan.

Tentu bertanding dengan mesin, punya kelemahan, mesin tidak capek, mesin tidak punya psikologi yang bisa dimainkan, sebaliknya Lee harus bermain dengan beban “harapan manusia”, meskipun kalah berkali-kali, dia tetap hadir di pertandingan berikutnya. Berkali-kali juga Lee mengeluarkan gerakan cantik yang tidak mungkin dia keluarkan sebelumnya jika tidak dipaksa/disudutkan oleh alphaGo.

Salah satu komentar Lee yang sangat berkesan adalah “karena ini saya bermain Go!” karena ternyata setelah dia bertahun-tahun di puncak, masih ada lagi kekuatan yang luar biasa yang tidak bisa dia kalahkan. Ia memuji Go dan tim di belakangnya dengan rasa yang berat tentunya.

Dia mungkin kalah, tapi sikapnya bertanding, sportifitas, pujian yang dia sampaikan ke lawan, hadir setiap hari, membuat orang semakin cinta dengan Lee. Ini bukan tugas yang mudah, tapi hanya Lee yang bisa melakukannya.

Bagaimana dengan kamu? masih menghindar dari tugas yang harusnya kamu kerjakan? masih menghindar dari harapan orang lain?

Sat Jan 4, 2020

Merasa orang lain sempurna

Kamu merasa beberapa orang sempurna
Hanya karena kamu belum banyak menghabiskan waktu dengan dia

Kabar baiknya,
Orang-orang yang nyaman dan kamu bisa menghabiskan waktu dengan mereka
Sama sekali tidak sempurna

Kalau kamu hanya mau berinteraksi dengan orang sempurna, silahkan mengumpulkan 7 bola naga terlebih dahulu.

Orang yang punya standar tinggi terhadap idolanya, akan kecewa ketika tahu “dia” melakukan kesalahan. Karena di kepalanya sosok tersebut adalah sosok sempurna.

Secara sadar kita tahu kalau orang lain tidak sempurna
Tapi, dalam sikap, kita menganggap orang lain harus sempurna, kita punya standar yang bias terhadap diri sendiri dan orang lain. Sesederhana: Teman kita tidak boleh melakukan kesalahan, tapi kita boleh.

Maafkan teman kamu, mereka tidak sempurna
Jangan menghujat idola kamu yang melakukan kesalahan, mereka tidak sempurna
Jangan membicarakan jelek orang terkenal, mereka tidak sempurna
sama seperti kamu

Fri Jan 3, 2020

Hidup cukup

Salah satu cara paling sederhana untuk menikmati hidup: “Pertahankan standar hidup kamu” Saat uang lebih banyak, kamu tidak wajib tinggal di tempat yang lebih mewah, naik kendaraan lebih cantik atau makan lebih mahal.

Kenapa sih kita cukup saat gaji hanya 1 juta, tapi semakin lama merasa kebutuhan semakin sulit. Kemungkinan besar, kita yang terus menambahkan keperluan ini. Yang tadinya jarang jajan di luar, saat ada uang sedikit, kita tidak bisa lagi menghindar. Barang-barang tambahan yang dulu sekedar hobi, sekarang menjadi kebutuhan yang wajib dipenuhi.

Saat gaji atau penghasilan kamu naik sedikit, pertahankan standar hidup kamu yang sekarang.

Kalau kamu berlomba mendapat status di mata orang, kamu akan dapat status yg kamu cari. Tapi, kalau kamu hidup tanpa perlu status dan pengakuan dari orang lain, kamu akan bermain semaksimal mungkin, menikmati permainannya, bertemu orang2 baik, dan membuat hal yg luar biasa

Tidak perlu memberi sinyal ke orang lain, kalau kamu lebih dari mereka. Cukup berkarya yang terbaik, menjadi magnet untuk orang-orang baik berkumpul

Jadi.. begini saja terus?

Rasa puas berbeda dengan rasa syukur. Kita harus puas dengan hasil yang didapat, tapi bentuk rasa syukur kita dengan apa yang dipunya adalah dengan memaksimalkannya. Kamu punya ilmu, belajar lagi, kamu punya tenaga, kerja!.

Tujuannya bukan tidur-tiduran, Tapi menghilangkan pikiran masalah kekurangan, jadi kamu bisa dengan tenang berkarya yang terbaik.

Saat kamu berhenti bekerja dan tidak mau berkembang lagi, ingat kamu punya teman, orang tua dan keluarga yang ingin dibantu dan ingin bahagia juga. Kita bisa membantu mereka dengan memaksimalkan apa yang kita punya.

Bukan juga berarti kamu tidak boleh menikmati hasilnya, justru dengan menikmati sesuatu (tidak berlebihan dan tidak menjadikannya kebutuhan) kamu bisa lebih bersyukur dan kembali memaksimalkan potensi kamu, agar orang lain bisa ikut merasakannya.

Sebelum membeli barang berikutnya, tanyakan apakah kalau barang ini tidak ada, saya mendapat masalah? atau semua baik-baik saja? Jangan juga menjadi hemat untuk hal yang kamu perlukan atau bisa membuat kamu lebih produktif. Contoh komputer kamu sudah sangat lambat, jangan mengatakan “masih jalan, tidak masalah”, jauh lebih baik kamu mengumpulkan uang untuk membeli komputer baru, agar pekerjaan kamu bisa lebih cepat selesai

Untuk apa punya banyak uang?

“Terus kalau uangnya sudah lebih dari kebutuhan bagaimana?”

Hukum dasar uang

Ingat hukum dasarnya: pemasukan harus lebih banyak dari pengeluaran.

Orang-orang yang menderita adalah orang-orang yang ingin tampak lebih dari kesanggupannya. Dia mulai mencicil mobil, mencicil rumah, mencicil barang-barang lainnya, di luar kemampuan. Datang saat waktu dia tidak bisa membayar, dia harus menghutang ke orang lain, dan begitulah rantai utang akan terus bersambung.

Hidupnya tidak tenang, kondisi di keluarga akan menjadi tegang.

Beli saat kamu sudah punya cukup uang dan saat kamu memerlukannya.

Wed Jan 1, 2020

pagi siang dan malam

Malam tidak punya warna
Kita sebut gelap karena tak ada cahaya
Bukankah jika penuh cahaya,
warna di sekeliling akan sama?
meskipun malam sudah tiba

Siang tidak punya suara
terdengar bising, karena aktivitas kita
Bukankah saat tak ada suara,
kita bisa menikmati suasana?
Meskipun masih siang, meskipun masih terang

Pagi tidak punya semuanya
Tampak hidup, karena masih diberi nyawa
Bukankah saat tidak ada siapa-siapa,
saat manusia tidak dibangunkan kembali,
pagi tak punya tugas lagi?

Tak ada beda antara Pagi, siang dan malam
Mereka hanya di sana
Sebagai tanda untuk yang bernyawa
Kalau Tuhan itu ada
Dan kita bisa dipanggil kapan saja

Fri Dec 20, 2019

Ibu

Kamu tidak memilih siapa ibumu,
Dia juga tidak memilih kamu menjadi anak.
Namun sikap kita bagai timur dan barat.

Anaknya menghitung berapa uang yang ia bisa sisihkan bulan ini,
Ibunya rela memberikan apapun, hal yang tidak dipunya sekalipun

Dulu selalu ingin diperhatikan, sedikit saja ibunya berpaling, dia menangis menjerit
Kini ibunya sendiri di rumah, dia sibuk mencari hal yang ia tidak punya

Ibunya berharap bisa berbicara lebih lama di telepon
Dia menjawab dengan singkat, ingin melanjutkan aktivitas berikutnya

Kini dia punya keluarga sendiri, keluarga baru katanya, mulai membangun semua mimpinya
Ibunya, dianggap keluarga lama, mulai tertidur berbaring lemah

Ibu yang punya 5 anak, mengurus semuanya saat mereka sakit di waktu yang sama,
Lima anak yang punya satu orang ibu, saling menunjuk siapa yang harus bertugas mengurusnya

Saat kamu kecil sedang sakit, ibu berdoa, lebih baik fisiknya yang merasakan
Kini ibumu tua dan sakit, kamu berharap ibu segera pergi agar tak jadi beban lagi

Dia lupa,
Ridho Tuhan pun ada di tangan ibunya

Ibunya sudah tidak ada,
Dia mulai rajin beribadah,
Mendoakan yang sudah tak bernyawa

Sang Ibu di sana, tetap bahagia
Meskipun tidak diperhatikan saat masih di dunia

Wed Dec 18, 2019

Jangan pusing dengan yang tidak bisa dikendalikan

Kita punya energi yang terbatas, bahan bakar tenaga ini bisa difokuskan untuk 1. berbuat sesuatu atau 2. khawatir terhadap hal tersebut. Kedua-duanya butuh energi, tapi untuk nomor dua, sering terpakai tanpa sadar.

Epictetus mengatakan “maksimalkan apa yang bisa kamu kendalikan dan terima apapun yang terjadi. Beberapa hal tergantung dengan kita dan beberapa hal tidak tergantung dengan kita”.

“Make the best use of what is in your power, and take the rest as it happens. Some things are up to us and some things are not up to us.”

Jika tidak sadar bahwa ada hal-hal yang di luar kendali, kita memperlakukan semuanya dengan sama. Padahal energinya terbatas, perlu membatasi hanya mengeluarkan energi ini untuk yang bisa dikendalikan, yaitu USAHA. Hasil bukan kita yang menentukan, jangan habiskan waktu, tenaga dan pikiran untuk khawatir secara berlebihan dengan hasil.

Hal-hal yang bisa dikendalikan:
-mengatur waktu kamu (memprioritaskan sesuatu)
-memilih teman yang baik (mencari lingkungan positif)
-menulis, membuat design, membuat program (dan kerjaan lainnya)
-konsumsi makanan/minuman tidak berlebihan
-membantu orang lain
-dst.

Hal-hal yang TIDAK BISA dikendalikan:
-Dipecat atau naik pangkat di perusahaan
-Lamaran diterima atau ditolak (pasangan atau pekerjaan)
-Gagal dalam usaha
-Perkataan dan sikap orang lain
-dll.

Saya yakin ada yang berargumen, “tapi kita bisa mengatur, kalau berusaha kemungkinan karir akan naik, tapi kalau malas-malasan, akan dipecat”. Betul, begitu juga dengan contoh-contoh berikutnya. Tapi perlu digaris bawahi, yang bisa kita atur adalah “usaha kita” dalam bekerja bukan hasil akhirnya.

Kita bisa berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan sesuatu, tapi bukan tidak mungkin, hal yang dikejar bertahun-tahun, hilang begitu saja. Di saat seperti ini, harus sadar, kalau ada hal-hal yang di luar kendali.

Sebagai contoh, kamu rajin membersihkan wajah, tapi ternyata secara genetik dan lingkungan, wajah kamu mudah berjerawat, kamu tidak boleh dan tidak perlu stres, karena stres akan memicu kembali penyakit yang lain. Kamu sudah berusaha membersihkan, kamu boleh belajar dan berusaha lagi, mengatur apa yang bisa dikonsumsi, membersihkan lingkungan dll. Tapi kalau yang terjadi kamu hanya menangis dan stres dengan jerawat yang ada sekarang, ini tidak membantu. Karena “hasil” ini di luar kendali kamu.

Perkataan dan sikap orang lain juga seperti ini, kita bisa berbuat baik ke orang lain, tapi tidak bisa mengendalikan orang lain melakukan hal yang sama. Abdullah Gymnastiar berpesan, hinaan dan pujian semuanya cuma gelombang suara yang sampai ke telinga, tidak ada bedanya. Kenapa kita senang dengan pujian, tapi begitu mudah sedih dengan hinaan? Mahatma Gandhi juga menyampaikan kalau “tidak ada yang bisa menyakiti saya tanpa izin saya”. Artinya ada pilihan, apakah sikap dan perkataan orang lain kita izinkan untuk menyakiti perasaan ini, atau kita hanya menganggapnya seperti suara yang lain, suara yang tidak bisa kita kendalikan.

Rasa khawatir kita terhadap hal-hal yang tidak bisa dikendalikan, sering kali justru menjadi penghalang aktivitas, akhirnya tugas-tugas berikutnya ikut menjadi kacau. Mantan pemain baseball Amerika, Mickey Rivers, punya mantra yang lebih jauh seputar rasa khawatir ini

“Tidak masuk akal untuk khawatir dengan hal yang bisa kamu kendalikan, karena kalau hal itu bisa dikontrol, tidak perlu lagi khawatir. Dan.. tidak masuk akal juga khawatir dengan hal yang tidak bisa kamu kendalikan, karena kalau tidak bisa kamu kontrol, kamu tidak perlu khawatir”

Sudah selesai dengan urusan sebelumnya? silahkan lanjutkan dengan urusan berikutnya, jangan berhenti dan memikirkan hasilnya, itu di luar kendali kamu. Saya sudah selesai dengan tulisan ini, yang bisa saya kendalikan? menulis dan memperbaiki tulisannya. Tugas saya berikutnya adalah menulis lagi, bukan memikirkan apakah orang akan membaca ini atau tidak.

Fri Dec 6, 2019

Sampai kapan kamu mau berlomba

Kita punya dua pilihan, memenangkan pertandingan di kehidupan ini dengan cara apapun ATAU tidak mengikuti pertandingan dan hanya menikmati permainannya.

Ketika perusahaan lain berlomba mendiskon produknya, saya lebih memilih menaikkan harga, agar saya bisa bertahan.

Ketika orang lain berlomba tampil lebih di sosial media, saya lebih memilih menulis di website yang mungkin tidak ada orang yang tertarik membaca.

Ketika orang lain berlomba menampilkan rasa cintanya dengan keluarga di sosial media, saya lebih memilih menghabiskan waktu dengan mereka di dunia nyata.

Tidak sedikit dari kita yang tanpa sadar mengikuti pertandingan ini setiap hari. Ingin menang sesaat, dipuji, dapat likes, komentar, jumlah viewer dan sebagainya, akhirnya kita berusaha menang dengan cara apapun. Kita mengira uang dan populer adalah tujuan, selalu menolak dan pura-pura tidak tahu, kalau banyak orang yang sudah “punya semuanya” justru berakhir stress.

Miris melihat orang-orang rela melakukan apa saja, hanya demi mencari perhatian.

Beri perhatian ke diri kamu sendiri, jangan mencari dari orang lain

Saya lebih tertarik bermain jangka panjang, mengerjakan hal yang menyenangkan dan bermanfaat untuk orang lain. Membuat perasaan kamu nyaman setiap hari ketika tahu ada orang yang terbantu dengan apa yang kamu buat. Semua resep produktivitas akan kalah ketika kamu mengerjakan apa yang kamu senangi dan bermanfaat.

Ketika godaan untuk ikut berlomba membuat sesuatu lebih besar, lebih banyak dan lebih-lebih lainnya, jauh lebih menarik untuk melanjutkan apa yang kamu suka.

Berhenti sejenak, berpikir dengan tenang, ketika hiruk pikuk lomba terus menggaung di sekeliling kita.

Tidak perlu sibuk menghakimi orang lain, setiap dari kita punya masalah dan urusan masing-masing. Kamu tidak harus ikut berlomba di kompetisi sementara ini, berdoa dan berusahalah untuk mencari orang-orang yang ingin bermain jangka panjang, habiskan waktu dengan mereka.

Berlomba berarti akan ada yang menang dan harus ada yang kalah. Saat kamu memilih tidak berlomba, semua adalah teman dan siap berbagi manfaat sesuai dengan peran masing-masing

Sun Dec 1, 2019

Lanjut (baca yang lain) >



<< Kembali ke Halaman Awal