🌚 Dark

Menjaga kesehatan mentalmu

Saat ditanya “di mana kamu banyak menghabiskan waktu sekarang” pada salah satu wawancaranya, Elizabeth Gilbert, penulis buku best seller, menjawab bahwa pekerjaannya sekarang adalah fulltime menjaga kesehatan mentalnya. Sekilas mungkin terlihat berlebihan, kenapa sih harus fulltime menjaga kesehatan mental kita?

Tidak terlihat seperti penyakit fisik yang lain, sakit secara mental bahayanya bisa lebih besar. Jangan lupa untuk terus memperhatikan kesehatan mental kita sendiri. Masalah ini bisa membawa ke depresi yang sangat dekat dengan tindakan bunuh diri.

Tidak ada yang mau melakukan ini di saat sadar, tidak ada juga yang mau orang dikenalnya melakukan ini. Karena itu jangan menganggap remeh masalah penyakit mental ini.

Beberapa tips menjaga kesehatan mental

Harga diri sendiri, jangan mudah menghakimi gagal hanya karena satu kesalahan. Belajar memaafkan diri sendiri. Tidak ada yang sempurna.. tidak ada. Jangan terlena dengan orang lain yang terlihat sempurna. Tidak ada yang sempurna.

Ngobrol sama teman yang kamu nyaman, bukan teman di sosialmedia, tapi dunia nyata. Yang kamu ngga malu kentut dekat dia. (Poinnya tentu saja kamu kentut dekat dia terus, tapi menandakan tidak ada yang kamu rahasiakan). Telfon jika sudah jarang bertemu, memang agak aneh saat di awal.

Punya aktivitas yang asyik. Waktu bangun kamu jangan sampai 100% hanya untuk kerja. Apa hobi kamu, apa olahraga yang kamu suka, sediakan waktu untuk itu.

Setelah mengerjakan tugas berat, traktir diri kamu sendiri, beri hadiah yang mengembalikan mood dan semangat. Hadiahnya tidak selalu fisik. Bisa jadi jalan ke taman atau bentuk lainnya yang kamu suka.

Sediakan waktu untuk berpikir, apa yang bisa kamu perbaiki, siapa yang bisa kamu hubungi, dan pertanyaan-pertanyaan penting lainnya. Terus sibuk dari satu hal ke hal lain tanpa waktu kosong diri sendiri juga tidak baik.

Sediakan waktu dan lebih aktif bertanya saat temanmu terlihat berbeda dari biasanya. Orang lebih cenderung menyimpan sakit mental sendiri.

Yang terakhir dan sebenarnya pertama, kamu punya Tuhan, Tuhan yang menciptakan semuanya, setiap hari berusaha mendekat denganNya, jangan malu dan takut, Dia tahu semuanya. Masalah kamu akan diselesaikan, meskipun semuanya terlihat sulit dan tidak mungkin.

Apakah ini hal memalukan?

Kalau kamu merasa sudah banyak uang dan sudah populer, sayangnya justru kita banyak mendengar kabar bunuh diri dari kalangan ini. Hal-hal duniawi sama sekali bukan jaminan kamu bisa terbebas dari masalah penyakit mental ini.

Pernyakit mental adalah hal yang umum yang setiap dari kita bisa rasakan. Menjaga kesehatan mental bukanlah hal yang memalukan. Jangan malu meminta bantuan dan bertanya seputar tema ini. Bikin hal ini menjadi lazim untuk diobrolkan.

Mon Oct 21, 2019

Marah ke orang tua

Saya sering mendengar curhat-an orang lain kalau orang tua mereka tidak paham dengan apa yang ada di pikirannya. Kalau kamu ada di posisi yang sama, coba cek lagi, mungkin pekerjaan orang tua kamu bukan dukun dan peramal, makanya mereka tidak langsung tahu apa yang ada di pikiran kamu.

Tugas pertama yang perlu kamu lakukan adalah berkomunikasi dengan jelas, ketika orang tua berbeda paham. Bukan membanting pintu atau kabur dari rumah. Sediakan waktu yang pas untuk berbicara, bukan saat keadaan emosi sudah memuncak baru mengeluarkan semuanya.

Ini bukan drama di televisi yang semuanya serba asyik kalau didramatisir, kamu sedih lalu kabur dan pada akhirnya membuktikan kamu yang benar. Ini kehidupan nyata, kamu punya orang tua yang sudah berkorban terlalu banyak, kamu juga perlu mengerti. Bukan hanya mau dimengerti.

Berbicara, sampaikan pendapat kamu, TAPI, tanyakan juga pendapat orang tua kamu. Tanpa komunikasi yang jelas, bagaimana caranya kita berharap bisa saling memahami. Termasuk soal kerja, pasangan hidup, pendidikan dan lainnya.

Buktikan juga kalau kamu sudah dewasa dengan bisa mencari uang sendiri, berapa banyak anak yang melawan orang tuanya, merasa pilihannya tepat, tapi tanpa sadar dia masih tinggal dan hidup penuh dibiayai orang tuanya, wajar saja orang tua kamu khawatir. Buktikan kalau kamu memang sudah bisa mandiri, setelah kamu bisa mencari uang sendiri, akan banyak perspektif yang berubah.

Kamu bisa mengganti teman, tempat belajar, tempat kerja dan lainnya, tapi orang tua tidak. Kamu tidak memilihnya dan mereka tidak memilih kamu. Tidak ada yang kebetulan.

Jangan hanya berkomunikasi saat marah atau ada masalah, rutinkan untuk mengobrol sehari-hari, bisa lewat teh atau kopi.

Thu Oct 17, 2019

Pengetahuan itu potensi bukan aksi

Kamu sudah baca banyak blog, nonton banyak video youtube, mengkonsumsi berbagai media belajar tapi tidak ada yang berubah dari hidup kamu. Akhirnya kamu stress, merasa bodoh dan tidak bisa apa-apa.

Semua yang kamu pelajari adalah pengetahuan. Semua pengetahuan yang kamu punya saat tidak dipraktekkan tidak akan jadi apa-apa. Bayangkan saja rumusnya seperti ini:

Praktek X Pengetahuan = Hasil.

Pengetahuan kamu 1000? praktek kamu nol?

0 x 1000 = 0

Wajar saja tidak ada yang berubah, yang kamu pelajari tidak dipraktekkan. Sebaliknya kalau yang kamu praktekkan baru sedikit dan tidak sempurna:
1 x 1000 = 1000

walaupun usaha kamu hanya bernilai 1, tapi itu sudah bernilai 1000. Jangan tanya lagi mana yang lebih penting, teori atau praktek. Dua-duanya penting. Rumusnya perkalian, salah satunya besar dan selama tidak nol, kamu akan melihat hasilnya.

Praktek, sedikit demi sedikit, hasilnya akan terlihat.

Wed Oct 16, 2019

Merasa orang lain akan paham

Antar teman, dosen ke mahasiswa, pemilik bisnis ke pengguna, orang tua ke anak atau setiap interaksi yang ada memerlukan komunikasi. Bukan hanya komunikasi, tapi komunikasi yang jelas. Tidak jarang dua pihak berkelahi hanya karena asumsi di kepala masing-masing.

Saat kamu ingin berbicara sesuatu, sampaikan dengan jelas. Tidak setengah-setengah dan tidak berasumsi orang lain pasti akan mengerti. Kamu dan dia punya pemikiran yang berbeda, satu kejadian bisa melahirkan banyak makna.

Clear is kind
Unclear is unkind
-Brene Brown

“Jelas itu baik, tidak jelas itu tidak baik”.
Kalau kamu seorang pemimpin di perusahaan atau komunitas kamu, pastikan memberi tugas dengan jelas. Sering kali tugas tidak diselesaikan dengan benar, akhirnya kita marah ke orang lain, padahal komunikasi kita yang tidak jelas. Orang yang diberi tugas pun jangan pura-pura mengerti saat ada yang tidak jelas. Biasakan bertanya.

Kalau kamu seorang freelancer ada permintaan bos atau klien yang kurang dipahami, tanyakan ke mereka. Bukan “iya iya” tapi setelah itu panik bertanya di forum-forum umum, padahal orang lain tidak mengerti konteks yang kamu bicarakan. Tanyakan sedetail mungkin, sampai kamu mengerti. Orang lain bukan musuh kamu, jangan menghindari dari komunikasi yang jelas.

Ketika pemerintah mengeluarkan undang-undang misalnya, tidak adanya media yang jalan untuk menjelaskan kenapa sebuah undang-undang atau aturan diperlakukan, hanya akan terdengar seperti seorang atasan yang bersifat otoriter mengatur bawahan. Saya harus meralat, bukan tidak ada media, tapi tidak memanfaatkan media.

Mungkin dalam hati kamu bilang “tapi selama ini diundang kok ke televisi’, sayangnya saat sudah terlambat, media pun akan meliput bagian yang seru, bukan yang membosankan. Ketika ada demo besar-besaran, barulah narasumber diundang. Kenapa tidak saat semuanya masih tenang, mengundang semua pihak yang terkait untuk berkomunikasi dengan jelas.

Itu yang sifatnya “pasif”, menunggu diundang. Tapi kita bisa “aktif”, dengan menggunakan sosial media, tulisan atau video. Yang penting, sampaikan dengan jelas.

Hal ini diperparah ketika orang berkomunikasi via digital. Baik itu sms/whatsapp atau twitter. Di mana tidak ada nada(intonasi) ketika orang berbicara. Tidak jelas, apakah orang lain dalam keadaan marah atau berbicara biasa. Akhirnya pihak lain akan mengasumsikan kalau yang diseberang sana sedang emosi dan membalasnya dengan emosi. Api dilawan dengan api.

Kalau ada persoalan yang penting, usahakan bertemu langsung, atau paling tidak lewat call, suara atau video. Agar dua pihak sadar, kalau yang ditemani berbicara adalah manusia, bukan mesin yang kita bisa seenaknya menuduh tidak jelas.

Saat kamu berbicara, sampaikan dengan jelas dan tenang, berikan konteks. Orang lain tidak paham, kamu juga tidak. Hindari asumsi.

Wed Oct 16, 2019

Menyulap bisnis (mencari jalan instan)

Ada vitamin ada obat. Vitamin dalam menjalankan sesuatu adalah “tambahan semangat” demgan mengingat kenapa kita memulainya atau mendapat motivasi, sementara Obat dibutuhkan saat kita depresi menjalankan bisnis yang tidak kunjung berhasil. Lalu apa obatnya?

Untuk saya sendiri, obatnya adalah mendengar atau membaca cerita orang lain. Istilah “Sukses semalam hanya butuh 10 tahun”ini bukan sekedar istilah. Saat kita mendengar orang lain sudah sukses di media, kita tidak benar-benar mencari tahu apa yang terjadi sebelum mereka berhasil.

Perusahaan besar di Indonesia seperti traveloka, bukalapak, gojek dan lainnya, paling tidak butuh +- 10 tahun untuk bisa sampai di titik sekarang. Ketika para anak muda mendengar kisah sukses para unicorn ini, mereka akan terinspirasi untuk mulai membuat sesuatu.

Sayangnya tidak sampai satu tahun atau mungkin hanya berbulan-bulan sampai mereka memutuskan untuk menyerah dan berhenti mengejar mimpinya. Mereka lupa kalau kesuksesan ini hanya butuh 10 tahun. Tidak ada sulap dalam bisnis. Selamat bekerja keras.

Kalau kamu mencari jalan instan, kabar baiknya ada, tapi jalan instan untuk menyerah, bukan jalan instan untuk berhasil.

Mon Oct 14, 2019

Banyak yang setuju

Ketika kamu ada di posisi tertentu, entah karena jabatannya di suatu perusahaan/organisasi atau seorang influencer yang punya pengaruh, bukan hal aneh kalau akan banyak “yes man atau yes woman” yang akan hadir.

Punya pendukung itu bagus, tapi ketika pendukung kamu adalah pendukung yang tidak rasional, tidak berpikir dan mengIYAkan semua pendapat kamu, ini jelas masalah.

Kamu akan berputar di ilusi, kalau kamu selalu melakukan hal benar dan orang lain salah karena mereka tidak punya banyak yes man seperti kamu. Hati-hati saat kamu sudah ada di posisi ini, kamu bisa terlena tidak lagi bekerja keras , berpikir dan memikirkan perasaan orang lain.

Saat ada yang berbeda pendapat, kamu cenderung menyerang dan mengerahkan “massa” yang kamu punya. Padahal kamu belum tentu di posisi benar.

Selalu luangkan waktu untuk berpikir dengan tenang, tidak terburu-buru berpendapat. Dan menyambut baik ketika ada pendukung atau teman kamu yang tidak setuju. Berbeda pendapat adalah hal sehat dan sangat kita butuhkan setiap hari.

Sat Oct 12, 2019

Yang lebih buruk bisa terjadi

Saat kamu sedang dihadapkan masalah, secara instan kita akan mengeluh dan sedih dengan masalah ini. Kita lupa hal yang lebih buruk bisa saja terjadi.

Usaha yang kamu perjuangkan gagal ? Faktanya, jumlah kita akan gagal memang lebih banyak daripada jumlah berhasil, kamu masih hidup, masih bisa berjuang lagi.

Coba pikirkan, ada orang-orang di daerah lain sedang tertimpa musibah, ada yang rumahnya kebakaran habis 100%, ada yang terkena gempa dan masih banyak lagi. Semua hal ini tidak terjadi ke kamu. Orang-orang mulai dari minus, kita bisa mulai dari nol. Bukannya harusnya bersyukur?

Saat olahraga kaki kamu cedera? Ada orang yang hidup hanya dengan satu kaki sejak lahir. Bukannya kita harus bersyukur bisa merasakan sakit di salah satu kaki kita sekarang?

Kita diberita mata, telinga dan oksigen secara gratis, tidak dibayar. Sulit rasanya untuk mengeluh. Orang-orang lain banyak yang lebih menderita dari kita sekarang, masalah ini bisa saja lebih buruk, tapi ini yang kita hadapi. Mungkin ini yang terbaik

Fri Oct 11, 2019

Hacking (paksa) rasa malas

Setelah kamu menentukan tugas mana yang penting, atau saat kamu sudah komitmen untuk melakukan sesuatu, sayangnya masalahnya belum berhenti di sana, pada saat waktunya datang akan muncul rasa malas untuk melaksanakannya.

Bisa jadi rasa malas karena keadaan fisik, seperti “panas, harus naik motor” atau “sedang tidak mood”, “lagi nonton acara bagus” dan segudang alasan lainnya.

Saat rasa ini datang, kita perlu sadar, kalau rasa malas ini tidak hilang, jadi kalau kamu menunggu dia pergi, ya akan sia-sia. Yang perlu kamu lakukan adalah mengerjakan tanpa berpikir. Kalau kamu kembali berpikir “ah mungkin ada orang lain nanti yang ngerjain , ah ngga usah dulu deh, masih bisa besok” dst. kerjaan ini benar-benar tidak akan berjalan.

Waktu kamu berpikir dan memutuskan adalah di awal, setelah waktunya datang untuk mengerjakan, tugas kamu adalah mengerjakan! bukan lagi berpikir mau atau tidak.

Contohnya langsung pesan “gocar/gojek/grab” untuk kamu pergi ke tempat yang dituju, kalau kamu mau menyesal sudah terlambat, drivernya sudah datang untuk jemput kamu pergi. Begitu juga kalau kerjaannya bisa selesai di rumah, tapi kamu malas. Pergi! cari cafe, coworkingspace, warkop atau tempat lainnya, mengganti suasana akan membantu kamu. Akan muncul rasa “masa jauh-jauh ke sini tapi tidak kerja”.

BIkin suasana terpaksa untuk kamu mulai mengerjakan apa yang penting

Fri Oct 11, 2019

Coba dulu

Sekarang kamu mendengarkan saran A, tidak lama kemudian kamu mendapatkan saran B. Akhirnya bingung tidak tahu mau menggunakan saran yang mana dan akhirnya kamu diam tidak mengerjakan apa-apa.

Tidak usah meributkan pendapat siapa yang benar. Seringkali pendapat dua-duanya benar, karena setia pendapat punya konteksnya sendiri. Mulai dari waktu, tempat dan keadaan orangnya.

Sebagai contoh, kalau kamu mempelajari persoalan diet, makanan mana yang sehat, akan banyak argumen mengenai nasi tidak sehat, sampai kamu menemukan informasi lagi, kalau ada satu kota di Jepang dengan statistik besar penduduknya hidup sampai di umur yang tua dan tetap makan nasi. Pendapat ilmiah pun akan berubah seiring berjalannya waktu.

Contoh lain di dunia bisnis, akan ada saran kamu harus menaikkan harga, saran lain kamu harus menurunkan harga. Kalau kamu hanya membaca judulnya, tanpa menggali apa konteks masing-masing dari saran ini, kamu akan bingung.

Kalau kamu penasaran apakah hal A benar, test! coba lakukan sendiri. Kamu tidak tahu mana yang paling pas untuk kondisimu, sampai kamu mencobanya sendiri.

Thu Oct 10, 2019

Waktu kosong untuk berpikir

Kalau kamu tidak tahu mau ke mana, ada kemungkinan setiap tawaran orang di jalan akan kamu terima, yang penting jalan dulu, tidak peduli orangnya mau mengantar kamu ke mana. Apakah kamu sudah menentukan kamu mau jadi apa? atau apa yang mau kamu lakukan dengan hidup kamu?

Mungkin kamu terlihat sibuk, selalu ada pekerjaan, selalu aktif datang ke acara, tapi apakah ini sudah mengantar kamu ke arah yang benar? sedikit lebih dekat dengan tujuan kamu. Atau justru kesibukan ini jadi tempat kamu sembunyi untuk menghindari pekerjaan yang harusnya kamu kerjakan?

Berikutnya saat ada tawaran pekerjaan, ikut suatu acara, dalam bentuk apapun, berikan ruang kosong untuk kamu berpikir. Minta waktu, jangan hanya bilang “iya” karena tidak enak menolak. Hasilnya tidak akan maksimal, akan merugikan kamu dan pihak yang lain. Belajar bilang tidak kalau memang tidak sejalan dengan target kamu.

Beri jeda, antara tawaran yang masuk dan memberikan jawaban. Pikirkan baik-baik, berapa lama waktu yang dibutuhkan, waktu dan tenaga yang akan keluar. Jangan langsung bilang iya. Cari waktu kosong, pikirkan dengan matang.

Sering kali kita memberi jawaban karena dalam keadaan emosional. Jangan mengambil keputusan penting saat ada perasaan yang memuncak. Cari waktu di mana perasaan kamu netral dan bisa mempertimbangkan dengan bijak.

Kamu hidup hanya satu kali di bumi ini, apakah tidak menyedihkan kalau kamu tidak mengerjakan apa yang penting untuk kamu?

Thu Oct 10, 2019

< Sebelum | Lanjut (baca yang lain) >



<< Kembali ke Halaman Awal