'Optimis' dan 'Mulai' bisa saling memanggil

Ada jaman saya semangat di “kepala”, jadi sangat ambisius, mau mengerjakan banyak hal dan mau jadi orang besar. Mulai nonton banyak video dan baca buku tentang motivasi. Lama-kelamaan saya menjadi bosan, ternyata yang terjadi saya mencari pelarian dengan terus menghabiskan waktu ‘mengkonsumsi’ motivasi-motivasi ini.

Yang salah bukan motivasinya, tapi saya yang tidak mulai bergerak. Akhirnya saya belajar untuk ‘mulai’. Terlepas dari lagi malas, lagi mau tidur, lagi cari alasan apa saja, pokoknya harus “mulai”.

Menarik! ternyata dengan ini ada banyak hal yang bisa mulai saya kerjakan.

Lama-kelamaan saya menjadi lelah. Sepertinya saya cuma pindah dari aktivitas satu ke aktivitas berikutnya, tanpa tujuan akhir yang jelas.

Di saat seperti ini saya perlu menginjak rem. Sayangnya yang sering terjadi, saya menjadi mencari pelarian, seperti menonton, membaca komik, atau apapun yang bikin saya tidak memikirkan tugas, akhirnya kembali ke masalah pertama. Tapi yang lebih parah, selain tidak bekerja, secara mental pun saya lelah. Saya merasa bodoh, merasa kalah dan tidak pantas melakukan apa pun.

Tarik nafas…

Ini tidak lain tidak bukan, hanya kumpulan alasan, apapun bentuknya, semuanya hanya alasan, agar saya mendapat gratifikasi instan. Sesuatu yang bisa saya nikmati langsung, entah itu hiburan, uang atau apa pun yang bisa saya dapatkan sekarang, tanpa memikirkan jangka pangangnya.

Tarik nafas lagi…

Sudah terlalu banyak hal negatif yang ada di sekeliling, dari kepala, dari sosial media, dari berita dan banyak lagi. Semuanya tidak berguna, waktunya kembali ke jaman old, termotivasi dan merasa optimis.

Kevin Kelly pernah bilang “Being enthusiastic is worth 25 IQ points” (Antusias bernilai 25 IQ Poin).

Saya tidak tahu IQ saya berapa, tapi dengan merasa antusias saya jadi merasa optimis bisa menyelesaikan sesuatu. Selama ini saya selalu merasa tidak bisa mengerjakan sesuatu yang sangat sulit, padahal hanya butuh waktu dan mau duduk lebih lama, agar masalahnya bisa selesai. Yang membedakan hanya apakah saya mau bertahan mengerjakannya atau tidak.

Kalau di programming kira-kira seperti ini, fungsi yang mau saya buat:

fungsi merasaOptimis(){
	mulaiKerja()
}

fungsi mulaiKerja(){
    merasaOptimis()
}

Artinya, saat saya merasa optimis, saya harus mulai kerja, memanfaatkan energi yang bagus ini, bukannya malah terus cari motivasi lagi, tapi harus mulai. Dan pada saat mulai, saya harus merasa optimis, yang akhirnya kedua aktivitas ini saling membantu.

Motivasi memang tidak bertahan lama, katanya sih sama seperti mandi. Penting, tapi ngga cukup satu kali.

Untuk menyeimbangkan rasa senang bekerja dan visi jangka panjang, ingat ini

“orang-orang meremehkan apa yang bisa dilakukan dalam satu tahun, tapi berlebihan apa yang bisa dilakukan dalam satu hari”

Berpikir apa yang mau dilakukan, apa jangka panjang dan strateginya sangat penting, tapi jangan lupa, bikin langkah-langkah kecil, apa yang bisa kamu lakukan sekarang. Bikin progres setiap hari! salam dari saya yang lagi semangat.

Jangan menghukum diri sendiri

Saat kamu merasa tidak termotivasi atau lagi lemas untuk mulai kerja, belajar memaafkan diri kamu. Jangan langsung menghakimi. Ini normal, ngga bisa kita semangat terus 24 jam atau terus-terus produktif. Bosan, malas, istirahat boleh ko’ sekali-sekali.


---

✍🏽 Mon Dec 7, 2020
👉🏽 Kategori: kerja
👋🏽 Mau email kalau ada info menarik? klik ini.
Tertarik untuk mendukung?