🌚 Dark

Demi viral

Untuk apa membuat prank? agar punya konten.
Untuk apa punya konten? agar bisa viral.
Untuk apa viral? agar bisa terkenal.

Belum lama ini, di berita, ada “prank” yang berujung seseorang meninggal. Bukan yang pertama, tapi masih membuat saya emosi. Belum lama juga (dan setiap) ada seorang selebriti yang meninggal, berbagai website berita akan menggali kehidupan keluarga yang ditinggal, membuat konten lucu dan menarik “mumpung masih hangat” katanya. Berebut setiap klik, dengan judul yang tidak etis, sama sekali tidak memikirkan perasaan keluarga yang ditinggal, yang penting punya konten, agar bisa viral, agar bisa terkenal.

Saya hidup di masa transisi teknologi, pernah merasakan ketika teknologi belum secanggih sekarang, masa kecil tanpa internet dan berbagai gadget. Kita cukup kaget, kedatangan semua ini, berbeda dengan generasi “natif” yang justru aneh membayangkan ini semua tidak ada. Saat punya cita-cita dan tujuan hidup dulu, belum banyak “kabut” dan “asap” gangguan seperti sekarang. Tidak perlu jauh-jauh, intip adik-adik kamu yang sedang asyik mabar mobile games atau memakan samyang untuk upload di youtube. Dua cita-cita besar menjadi youtuber atau gamer.

Orang-orang rela makan makanan aneh, melakukan hal berbahaya, menjadikan orang lain korban.. DEMI VIRAL.

Para pembuat konten akan menjadi idola. Anak-anak muda (bahkan anak kecil) berhasil terinspirasi untuk menjadi pembuat konten berikutnya. Melanjutkan rantai ini. Tanpa perlu menyampaikan pesan yang benar selama terkenal bisa didapat.

Sebelum meninggal

Kita semua pasti meninggal, apakah kamu yakin waktumu mau dihabiskan untuk berlomba membuat hal yang sama dengan orang lain demi naik ke tangga terkenal? Jim Carrey pernah bilang “saya berharap semua orang bisa kaya dan terkenal, agar mereka tahu, itu bukan jawabannya”. Kita berpikir misi akhir dari hidup ini adalah terkenal, generasi natif akan merasa “tidak hidup” ketika ada hari yang terlewati tanpa memposting sesuatu di sosial medianya.

Dari kamus online etymology, viral berarti: 1. disebabkan oleh virus atau 2. Menjadi tiba-tiba sangat populer di internet. Arti kata viral memang berubah, yang sebelumnya hal negatif (efek dari virus) menjadi istilah “sangat populer”. Sudah populer, sangat lagi, bagaimana mungkin orang-orang tidak tertarik dengan kata ini. Coba renungkan lagi perbedaan terkenal dan sukses, mungkin bukan terkenal yang kamu mau.

Viral sifatnya sangat sebentar. Kamu perlu berpura-pura lagi menjadi orang lain agar bisa membuat konten yang disukai oleh banyak orang. Tidak jarang, kamu perlu mengeksploitasi kehidupan atau emosi seseorang agar bisa ikut viral. Orang lain perlu menjadi korban, meskipun pada akhirnya mereka mungkin diberi “reward” dan harus berakting bahagia karena sedang ada kamera. Pembuat konten tidak peduli, apa yang sebenarnya orang tersebut rasakan, yang mereka peduli, seperti apa perspektif orang lain melihat kontennya.

Alternatif Viral

Saya mencoba memberikan alternatif, tapi caranya tidak instan. Saya tidak menjanjikan akhir yang sangat manis, tapi proses yang bisa kamu nikmati setiap hari.

Bikin sesuatu yang bermanfaat.

Hal yang baik, akan didengar oleh orang yang tepat di waktu yang tepat. Dibanding membuat konten untuk semua orang, pilih untuk siapa konten kamu ini, mereka akan meneruskannya ke orang yang relevan berikutnya. Bukan untuk semua orang.

Jalan ini sering kali terasa sepi, kadang merasa kamu sendiri. Jangan khawatir, kamu hanya perlu bertahan dan lebih sabar. Berkarya, sedikit demi sedikit.

Jadi sangat ahli di skill yang kamu punya sekarang, jangan sibuk berlomba untuk menjadi orang lain. Kita semua butuh hal berbeda, ada banyak masalah yang bisa kamu fokus untuk selesaikan. Kamu tidak akan berjalan sendiri, jalan kebaikan akan mempertemukan orang-orang baik.

Kita kekurangan “idola” yang punya misi dalam popularitasnya. Sebagian hanya menjadikan populer sebagai tujuan, bukan alat. Silahkan menjadi terkenal dengan proses yang baik, jangan lupa, saat sudah punya suara, sebarkan kebaikan seluas mungkin, bantu orang lain bisa melihat jelas, di tengah kabut viral yang begitu tebal.



<< Kembali ke Halaman Awal