🌚 Dark

Mau mengerjakan semua hal

“Kalau kamu mengejar dua kelinci, kamu tidak akan mendapatkan keduanya” - Pepatah Rusia.

Setelah kamu mendefinisikan apa yang kamu inginkan, jebakan kedua akan langsung hadir, yaitu kamu ingin mengerjakan terlalu banyak hal sekaligus. Padahal energi dan fokus yang kita punya sangat terbatas, belum lagi dengan “gangguan sosial media” yang akan kita bahas di bagian lain.

Dulu saya sering terjebak dengan masalah ini, saya merasa keren ketika melakukan “multitasking”, berusaha mengerjakan banyak hal sekaligus, terlihat seperti seorang jenius, sampai saya sadar, kalau ini hanya seperti make up yang membuat saya baik terlihat dari luar, bukan menyehatkan wajah asli yang saya punya.

Multitasking, yang disebutkan di sini bukan hanya “saat mengerjakan suatu aktivitas” tapi juga ketika kamu punya target besar yang menjadi fokus dan dijalankan secara bersamaan.

Kalau kamu punya beberapa prioritas, berarti kamu tidak punya prioritas sama sekali. Prioritas hanya SATU. Apa prioritas kamu saat ini? hanya boleh satu, bukan dua, bukan tiga. Bukan juga berarti saat kamu ingin fokus dengan kerjaan berarti kamu tidak bisa memikirkan keluarga, yang saya maksud di sini adalah satu prioritas dalam setiap bidang. Misalkan prioritas startup kamu saat ini untuk menaikkan revenue, lalu prioritas keluarga kamu adalah menambah frekuensi ngobrol dengan anak, atau prioritas kesehatan kamu, fokus memakan sayur dan buah, setiap bidang boleh punya satu prioritas.

Sebagai seorang pemimpin pun, baik di organisasi, komunitas atau perusahaan, pastikan hanya memberi satu prioritas untuk setiap karyawan, perjelas apa sebenarnya yang sangat penting dilakukan saat ini, bukan dua atau tiga, hanya satu. Nanti setelah kamu menyelesaikan satu hal dengan baik, silahkan pindah ke tugas berikutnya

Bagaimana cara menentukan Prioritas

Pertanyaan yang pertama kali muncul biasanya, bagaimana kalau saya punya banyak masalah yang harus diselesaikan? bukan hanya satu? pertanyaan yang wajar, betul, mungkin kamu harus menyelesaikan banyak hal, tapi ingat, selesaikan satu per satu, tidak bersamaan. Salah satu tips yang selalu menjadi pedoman saya adalah “ketahui tugas apa yang jika diselesaikan, akan mempermudah tugas lain”.

gambar domino effect dari buku the one thing

Di buku “the one thing” milik Gary Keller dan Jay Papasan, mereka memberi contoh deretan domino. Bayangkan kamu punya domino dengan tinggi 4 cm, lalu di depannya ada domino tinggi 10 cm, 20cm, dan seterusnya yang disusun berbaris. kamu bisa menjatuhkan hingga tinggi 1 meter atau lebih nanti, selama kamu menyusun barisannya secara bertahap, bukan dari domino tinggi 4cm langsung ke domino 1m. Kamu perlu menjatuhkannya satu per satu.

Dengan mengetahui tugas apa yang kamu perlu “jatuhkan” sekarang, kamu bisa dengan mudah menjatuhkan tugas tugas berikutnya. Contoh jika kamu punya startup atau perusahaan, ketika kamu langsung ingin “menang” di marketing, unggul di sosial media dan mendapatkan penghasilan sebanyak-banyaknya, kamu akan bingung memulai dari mana, atau kamu membagi tim dan pikiran untuk mengerjakan semuanya sekaligus. Padahal jika dipikirkan “domino pertama” yang perlu kamu jatuhkan adalah membuat produk yang luar biasa bagusnya.

Dengan membuat produk yang luar biasa bagusnya, pelanggan akan rela membelinya, ketika kamu punya banyak pelanggan, kamu punya cash untuk beriklan, untuk mendatangkan pelanggan berikutnya, dan kepentingan-kepentingan lainnya, tapi.. jika produk kamu jelek, kamu hanya akan seperti menambal ember bocor, terus beriklan, tapi tidak ada pelanggan yang tinggal di sana.

Google mulai dari sistem pencari, sekarang? google maps, google ads, google drive, dan lainnya.

Facebook mulai dari satu kampus, sekarang? seluruh dunia.

Starwars mendapat keuntungan 10T $ dollar dari merchandise. Tapi bukan itu yang pertama kali mereka lakukan, mereka membuat film Starwars yang luar biasa bagusnya, sehingga orang mau membeli merchandisenya.

Saat membuat sekolahkoding, saya mulai dari youtube, tidak pakai microphone, tidak pakai edit-edit atau animasi, videonya hanya saya mengajar, karena responnya sangat baik, baru saya kembangkan dan berinvestasi ke hal lainnya, seperti memperbaiki website, membuat forum, membeli monitor dan keperluan lainnya, tapi tugas saya pertama hanya membuat video yang bagus.

Pilih satu tugas, kerjakan dengan sangat baik.
Tugas berikutnya akan menjadi lebih ringan.

Mengatur waktu untuk prioritas kamu

Usahakan untuk mengerjakan prioritas saat energi kamu masih penuh, bukan memberikan energi sisa. Sering kali, kita mengerjakan hal penting hanya dengan energi seadanya, akhirnya hasilnya pun tidak maksimal. Setelah mengetahui apa hal yang paling penting untuk kamu saat ini, cari waktu terbaik untuk melaksanakannya.

Sebagai contoh, kalau kamu memang mau menulis sebuah buku, tapi kamu punya pekerjaan sehari-hari, cobalah bangun lebih cepat, menulislah saat suasana masih tenang, saat kamu masih punya banyak stamina. Ingat kata-kata ini “Yang mau akan mencari jalan, yang tidak akan mencari alasan”. Saya tahu tidak semua orang punya perjalanan yang sama, kita akan cemburu dengan orang lain yang bisa mengejar “passionnya”, mengeluh selalu jauh lebih mudah dibanding mulai mengubah keadaan kita sekarang. Lebih jauh saya menulis hal ini di artikel antara kerja dan passion. Untuk kamu yang bingung perbedaan mengejar karir, sekedar kerja dan passion.

Tim Ferris mengingatkan “kalau tidak ada di kalender kamu, maka ini tidak nyata”, pastikan kamu punya JADWAL untuk mengerjakan apa yang penting. Bukan ketika ingat, bukan ketika ada waktu, bukan ketika waktunya sudah datang, mulai jadwalkan sekarang, kosongkan waktu untuk itu. Jangan tunggu waktu yang tidak akan pernah datang.

Seorang pemenang lomba scrabble prancis menjelaskan, dia baru saja beberapa bulan membuka kamus Prancis, dia tidak bisa sama sekali berbahasa Prancis. Tapi dia tahu untuk memenangkan lomba scrabble, dia hanya perlu menghapalkan kosa kata dari kamus, tanpa perlu mengetahui arti atau belajar grammarnya. Dia tahu tujuan yang diinginkan, akhirnya dia bisa dengan mudah memenangkannya, tidak terlarut dengan menghabiskan waktu belajar hal lain.

Artikel ini adalah bagian kedua dari seri masalah produktivitas



<< Kembali ke Halaman Awal